Perdebatan mengenai perluasan penempatan senjata nuklir Amerika Serikat kembali memicu friksi di internal pakta pertahanan NATO. Isu ini mencuat setelah para pejabat tinggi di Polandia menunjukkan sikap terbelah terkait peluang bergabung ke dalam skema nuclear sharing di tengah meningkatnya tensi geopolitik dengan Rusia.
Secara global, hanya sembilan negara yang memiliki program senjata nuklir mandiri, termasuk tiga anggota NATO yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Melalui skema nuclear sharing yang dibentuk sejak era Perang Dingin, lima anggota NATO lainnya鈥擝elgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki鈥攖elah lama menjadi tuan rumah penempatan bom nuklir gravitasi B61 milik AS.
Silang Pendapat di Internal Polandia
Wacana keikutsertaan Polandia dalam skema penempatan hulu ledak tersebut memicu polemik terbuka di Warsawa. Wakil Menteri Pertahanan Polandia Pawel Zalewski menegaskan penolakannya terhadap rencana penempatan persenjataan nuklir di dalam negeri.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Zalewski menyatakan secara terbuka bahwa Polandia tidak berniat menampung hulu ledak nuklir AS di wilayah kedaulatannya. Sikap tersebut langsung menuai kritik dari Marcin Przydacz, Kepala Biro Kebijakan Internasional untuk Presiden Karol Nawrocki. Przydacz menilai pernyataan kementerian pertahanan tersebut bertentangan dengan kebutuhan pertahanan Polandia dan menegaskan bahwa Warsawa justru menginginkan keberadaan hulu ledak nuklir di wilayahnya.
Faktor Ancaman Rusia dan Opsi F-35
Dorongan bergabungnya Polandia ke dalam skema nuklir tidak terlepas dari posisi geografisnya yang rentan sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina. Sejumlah insiden menunjukkan drone dan rudal Rusia sempat memasuki wilayah kedaulatan Polandia. Selain itu, wilayah Polandia tercatat berada dalam radius jangkauan langsung sistem rudal Iskander milik Rusia yang ditempatkan di Kaliningrad dan Belarus.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Secara postur militer, Polandia saat ini memiliki kekuatan angkatan bersenjata terbesar ketiga di NATO setelah Amerika Serikat dan Turki. Negara ini juga mengalokasikan anggaran pertahanan yang cukup besar, yakni sekitar 4,3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Sebagai jalan keluar dari perdebatan penempatan hulu ledak, analis pertahanan Lukasz Kulesa menilai ada opsi alternatif yang dinilai minim risiko. Langkah tersebut dilakukan dengan menyertifikasi armada jet tempur F-35 serta melatih pilot militer Polandia untuk kesiapan misi nuklir NATO, tanpa perlu menempatkan bom nuklir secara fisik di daratan Polandia.






