Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda kembali memicu kekhawatiran masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir barat Banten. Suara dentuman keras disertai getaran fisik mulai dirasakan warga sejak dini hari, memicu kepanikan warga yang masih mengingat jelas bencana tsunami Selat Sunda beberapa tahun silam.
Salah seorang warga Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Mohd Rizqi Baidullah, mengungkapkan bahwa getaran pada jendela rumah dan suara dentuman keras sesekali mulai terasa jelas sejak pukul 02.00 WIB. Kondisi ini membuat situasi di lingkungannya sempat diselimuti kepanikan.
Rizqi menuturkan bahwa sejumlah tetangga dan warga di sekitarnya bahkan memutuskan untuk mengungsi menjauhi garis pantai. Langkah penyelamatan mandiri tersebut diambil sebagian masyarakat lantaran masih mengalami trauma mendalam akibat peristiwa tsunami Selat Sunda yang menerjang wilayah mereka pada 2018 lalu.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Penjelasan BNPB dan Evaluasi PVMBG
Kekhawatiran warga yang tinggal di kawasan pesisir Banten hingga pesisir Lampung mendapat perhatian penuh dari pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB menegaskan bahwa pemantauan terhadap potensi bahaya sekunder, termasuk potensi tsunami akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, terus dilakukan bersama pihak terkait.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa berdasarkan evaluasi terkini dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kondisi morfologi gunung saat ini belum menunjukkan ancaman keruntuhan besar.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 tercatat masih relatif kecil. Dengan struktur yang ada saat ini, gunung api tersebut dinilai tidak memiliki potensi mengalami keruntuhan dalam skala besar yang mampu memicu terjadinya gelombang tsunami. Oleh karena itu, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik.
Kendati potensi tsunami dari keruntuhan tubuh gunung dinyatakan relatif minim, PVMBG tetap menjalankan pemantauan secara intensif. Pengawasan berkala terus dilakukan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik serta perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau untuk mengantisipasi setiap dinamika yang terjadi di Selat Sunda.






