Hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan rencana pengenaan sanksi terhadap sejumlah bank asal China. Langkah tersebut menyasar lembaga keuangan yang dinilai terlibat dalam membantu Iran menghindari sanksi ekonomi yang diberlakukan Washington.
Peringatan keras ini mencuat di tengah persiapan diplomatik kedua negara menjelang rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS dalam beberapa pekan mendatang. Donald Trump menyebut tekanan keuangan ini sebagai bagian dari kampanye yang ia juluki "economic D-Day" terhadap Teheran.
Sinyal pembatasan ini mempertegas pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang sebelumnya memperingatkan bahwa bank-bank China yang memfasilitasi transaksi penjualan minyak Iran hingga konversi dananya menjadi uang tunai berisiko masuk dalam radar sanksi. Kendati demikian, hingga saat ini pemerintah AS belum merilis daftar spesifik bank yang menjadi target maupun format sanksi yang akan diterapkan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Respons Beijing dan Diplomasi Bilateral
Menanggapi ancaman tersebut, pemerintah Beijing menyatakan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna melindungi kepentingan nasional dan sektor perbankannya. Meski demikian, otoritas China belum menguraikan bentuk tindakan balasan yang mungkin diambil.
Di tengah tensi yang meningkat, koordinasi bilateral tetap berjalan. Duta Besar AS untuk China David Perdue telah menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi beserta jajaran pejabat lainnya di Beijing untuk mematangkan agenda kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Washington.
Dinamika Hubungan Washington-Beijing
Peneliti pascadoktoral di Center for International Security and Strategy (CISS) Tsinghua University, Jodie Wen, menilai pernyataan dari jajaran pemerintahan AS saat ini lebih berfungsi sebagai peringatan awal. Menurut Wen, pertemuan antara Trump dan Xi pada Mei lalu memperlihatkan pergeseran menuju pendekatan "persaingan terkendali", berbeda dengan pola penanganan era Joe Biden yang menempatkan Beijing secara tegas sebagai lawan strategis.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Pandangan serupa disampaikan Direktur China Center di Brookings Institution, Ryan Hass. Ia menilai otoritas Beijing kemungkinan melihat ancaman sanksi teranyar ini sebagai langkah yang cenderung simbolis. Hass memperkirakan kesepakatan jeda perang dagang atau trade truce antara kedua raksasa ekonomi tersebut masih akan bertahan, mengingat eskalasi konflik terbuka hanya akan mendatangkan kerugian besar bagi kedua belah pihak.
Di sisi operasional perbankan, Managing Director China di The Asia Group yang juga mantan eksekutif Wells Fargo Bank di China, Han Shen Lin, menjelaskan bahwa mekanisme pembatasan keuangan semacam ini pada praktiknya akan memaksa korporasi China berhadapan langsung dengan kepatuhan sistem perbankan asing yang tunduk pada yurisdiksi hukum AS.






