Pemanfaatan platform lokapasar digital berhasil melipatgandakan perputaran omzet pelaku usaha mikro kuliner dan kerajinan tangan lokal. Keberhasilan inovasi kemasan Cireng Asik asal Depok serta penetrasi pasar nasional jenama gelang Temali menunjukkan bagaimana integrasi kanal daring mendorong skala usaha kecil melampaui batasan operasional fisik.
Ika Safitri (27) bersama suaminya, Harun, awalnya memulai usaha cireng isian pada 2024 dengan modal Rp2 juta. Mereka menjajakan cireng dengan varian ayam original, ayam pedas, daging cincang, sosis, dan keju di depan sebuah sekolah di Jalan Merdeka, Kota Depok, seharga Rp1.000 per buah. Volume penjualan mereka bertahap melonjak dari 200 buah menjadi 500 buah per hari, mendatangkan omzet sekitar Rp400 ribu per hari dari lapak fisik dan kantin sekolah.
Ekspansi melalui Shopee dengan jenama Cireng Asik menjadi titik balik pertumbuhan bisnis tersebut. Demi menjaga mutu pengiriman ke luar kota, pasangan ini menerapkan teknik penggorengan setengah matang yang dipadukan dengan pengemasan vakum kedap udara. Jangkauan distribusinya dibatasi ke wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, dan Bali untuk menjaga kesegaran produk. Saat ini omzet harian Cireng Asik menyentuh kisaran Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari, dengan porsi 60 persen disumbang oleh kanal daring dan 40 persen dari penjualan langsung di sekolah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Penetrasi Pasar Kerajinan Berbasis Pre-Order
Kiprah serupa dicatatkan Dinda (25), pendiri jenama gelang buatan tangan Temali. Mengawali usaha sejak usia 18 tahun pada 2019, Dinda mengasah teknik kerajinan secara otodidak melalui Pinterest dan YouTube sebelum langsung memasarkan kreasinya lewat Shopee.
Temali mengandalkan material impor serta teknik pengerjaan manual seperti hand stitching dan braided bracelet. Produk dibanderol pada rentang harga Rp45.000 hingga Rp155.000 per unit, dengan jangkauan pembeli yang kini mencakup Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Dinda menerapkan sistem pre-order untuk mengontrol stok agar sesuai pesanan dan mempekerjakan tenaga kerja lepas (freelance) ketika volume permintaan melonjak.
Dominasi Usaha Mikro di Lanskap E-Commerce
Perjalanan Cireng Asik dan Temali mencerminkan pergeseran struktural perekonomian digital nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 4,40 juta usaha e-commerce di Indonesia pada 2024, tumbuh 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 97,38 persen merupakan kategori usaha mikro.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Total nilai transaksi e-commerce Indonesia sepanjang 2024 menembus Rp1.288,93 triliun atau naik 17,08 persen. BPS mencatat 17,23 persen pelaku usaha memanfaatkan platform lokapasar sebagai kanal penjualan, dengan kontribusi transaksi marketplace mencapai 15,79 persen atau sekitar Rp203,58 triliun dari total nilai transaksi daring nasional.
Laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works menunjukkan Shopee memimpin pasar e-commerce Indonesia dengan pangsa 54 persen dari total GMV senilai US$57,7 miliar sepanjang 2025. Pangsa pasar berikutnya diisi Tokopedia-TikTok Shop sebesar 38 persen, Lazada 6 persen, dan Blibli 3 persen. Berdasarkan data lalu lintas kunjungan per Juni 2025, Shopee menghimpun sekitar 126 juta kunjungan di Indonesia, mengungguli Tokopedia yang mencatatkan 62,8 juta kunjungan. Untuk mendukung daya saing sektor ini, kolaborasi antara Shopee Indonesia dan Kementerian Perdagangan juga dihadirkan lewat Program Akselerasi Produk Lokal guna memfasilitasi UMKM memperluas jangkauan pasar.






