Peristiwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 mengguncang wilayah Pandeglang, Banten, pada Sabtu dini hari (22/8). Peristiwa kegempaan yang melanda perairan barat daya Banten ini langsung terpantau dan dianalisis secara komprehensif oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Keberadaan informasi resmi mengenai parameter gempa M5,8 dari BMKG sangat diperlukan untuk memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat terkait guncangan tektonik yang terjadi pada waktu dini hari tersebut di wilayah Pandeglang dan sekitarnya.
Berdasarkan hasil analisis resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi episenter gempa bumi tersebut terletak di laut pada koordinat 7,73 derajat Lintang Selatan dan 104,33 derajat Bujur Timur. Jika ditinjau dari posisi daratan terdekat, koordinat episenter gempa bumi ini berjarak sekitar 182 kilometer arah barat daya Sumur, Pandeglang, Banten. Penentuan titik koordinat episenter di laut lepas ini menjadi dasar utama bagi BMKG dalam memetakan posisi pusat getaran dan menganalisis parameter seismisitas yang terjadi di perairan Banten.
Selain menetapkan titik koordinat episenter, analisis seismologi BMKG juga menunjukkan data mengenai kedalaman sumber getaran. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 ini tercatat memiliki kedalaman hiposenter 10 kilometer. Berdasarkan kedalaman hiposenter yang berada pada kedalaman 10 kilometer tersebut, BMKG mengklasifikasikan peristiwa ini ke dalam kategori gempa bumi dangkal. Dari aspek pemicu tektonik, BMKG menjelaskan bahwa gempa dangkal berkedalaman 10 kilometer di laut barat daya Sumur ini dipicu oleh aktivitas subduksi di wilayah lempeng tektonik setempat.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pemeriksaan lebih lanjut terhadap karakteristik perambatan gelombang gempa dilakukan melalui analisis mekanisme sumber tektonik oleh BMKG. Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber yang dirilis oleh BMKG, gempa bumi M5,8 di wilayah Pandeglang ini terbukti memiliki mekanisme pergerakan naik atau dikenal secara teknis sebagai thrust fault. Mekanisme pergerakan naik (thrust fault) ini selaras dengan aktivitas tektonik subduksi yang menjadi pemicu utama timbulnya getaran di kawasan perairan barat daya Pandeglang, Banten.
Terkait lokasi pusat gempa bumi yang berada di laut dengan mekanisme pergerakan sesar naik, pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera melakukan pemodelan untuk menguji potensi bahaya gelombang pasang. Berdasarkan hasil pemodelan resmi BMKG tersebut, gempa bumi M5,8 dinyatakan tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Informasi pemodelan dari BMKG ini menegaskan bahwa tidak ada ancaman bahaya gelombang tsunami bagi masyarakat yang bermukim di pesisir barat daya Banten maupun kawasan sekitarnya.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Meskipun pemodelan BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami, energi getaran dari gempa bumi dangkal M5,8 tersebut tetap merambat dan dirasakan di daratan. Berdasarkan data estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap yang diterbitkan oleh BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan dengan skala intensitas III-IV MMI di sejumlah wilayah Pandeglang, yakni di Cimanggu, Sumur, dan Cibitung. Laporan intensitas guncangan III-IV MMI di Cimanggu, Sumur, dan Cibitung menjadi data resmi BMKG mengenai dampak sebaran getaran yang ditimbulkan oleh gempa bumi pada Sabtu dini hari (22/8) tersebut.






