Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di Perairan Selat Sunda mengalami peningkatan erupsi hingga kini ditetapkan berada pada status Level III (Siaga). Menyikapi kondisi tersebut, otoritas terkait melarang seluruh kapal mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau selama status Level III masih diberlakukan.
Imbauan kewaspadaan diterbitkan bagi seluruh kapal yang melintas di Perairan Selat Sunda. Para nakhoda dan pengguna transportasi laut diminta meningkatkan kehati-hatian terhadap berbagai kemungkinan dampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, mulai dari letusan susulan, lontaran material vulkanik, paparan abu vulkanik, hingga potensi gangguan terhadap keselamatan navigasi pelayaran.
Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Beroperasi Normal
Meski aktivitas vulkanik meningkat dan radius bahaya 3 kilometer dari kawah aktif diberlakukan, layanan penyeberangan antarpulau Merak-Bakauheni dilaporkan masih beroperasi normal. Kapal-kapal feri di lintasan Selat Sunda tetap melayani arus penyeberangan penumpang dan kendaraan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi sejak Jumat malam dan terus mengeluarkan abu vulkanik ke atmosfer, sehingga pergerakan material vulkanik terus dipantau secara berkala oleh pihak-pihak terkait guna memastikan keamanan lalu lintas maritim.
Sebaran Abu Vulkanik Terdeteksi hingga Jakarta dan Jawa Barat
Berdasarkan data dan informasi dari PVMBG serta VAAC Darwin yang dipadukan dengan analisis citra RGB satelit Himawari-9 per 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi adanya dua klaster pergerakan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

BMKG mencatat bahwa sebaran abu vulkanik dari erupsi tersebut telah menjangkau wilayah Jakarta. Dari pantauan yang dilakukan, klaster pertama pergerakan abu vulkanik mengarah ke wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Ketinggian kolom sebaran abu pada klaster pertama ini tercatat membubung hingga mencapai ketinggian 20.000 kaki (20 ribu kaki).
Seluruh pihak yang beraktivitas di Perairan Selat Sunda dan daerah terdampak sebaran abu diimbau untuk terus memperhatikan perkembangan informasi resmi terkini mengenai status aktivitas Gunung Anak Krakatau.






