KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2026–2031. Keputusan tersebut ditetapkan dalam sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, pada Senin (31/8/2026).
Penetapan Gus Kikin sebagai nakhoda baru PBNU merupakan hasil mufakat dari para anggota Ahlul Halil Wal Aqdi (AHWA). Putusan forum permusyawaratan tersebut dibacakan secara langsung oleh KH Anwar Iskandar di hadapan peserta sidang pleno Muktamar.
Sebelum penetapan mufakat oleh AHWA disahkan, proses persidangan sempat melalui tahap pemilihan suara oleh para muktamirin guna menyaring lima besar nama calon Ketua Umum PBNU. Pada tahapan penjaringan awal tersebut, Gus Kikin berhasil menempati posisi pertama dengan perolehan sebanyak 472 suara.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Terpilihnya kepemimpinan baru organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut menuai sambutan positif dari Partai Golkar. Sekretaris Jenderal Partai Golkar sekaligus Ketua Fraksi Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, menyampaikan ucapan selamat kepada Rais Aam Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Kikin atas amanah yang diemban.
Sarmuji menyampaikan keyakinannya bahwa duet kepemimpinan Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Kikin dapat membawa Nahdlatul Ulama untuk terus konsisten menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Selain itu, Golkar menaruh harapan besar agar kepengurusan baru di bawah arahan Gus Kikin dapat mengedepankan pendekatan yang akomodatif pascadinamika Muktamar.
Menurut Sarmuji, kepemimpinan yang merangkul sangat penting guna menyatukan kembali seluruh kelompok dan elemen di internal PBNU yang sempat mengalami dinamika dan memanas selama berlangsungnya Muktamar ke-35 NU.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Di samping aspek konsolidasi dan persatuan internal, Fraksi Golkar DPR RI juga menaruh perhatian pada peran strategis kepengurusan baru PBNU dalam sektor pembangunan ekonomi umat. Sarmuji berharap kepengurusan PBNU masa khidmat 2026–2031 dapat semakin memperkuat kemandirian ekonomi pesantren serta umat secara luas.
Dengan penguatan ekonomi tersebut, Nahdlatul Ulama diharapkan tidak semata-mata menjalankan fungsi sebagai kekuatan moral dan keagamaan, melainkan turut berperan aktif sebagai motor penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.






