Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, secara terbuka mengakui bahwa sebagian besar kekayaan pribadinya bersumber dari sektor energi dan pertambangan, khususnya industri bahan bakar fosil. Hashim mengungkapkan rekam jejak panjangnya di sektor tersebut, di mana ia telah berkecimpung dan menjalankan bisnis minyak dan gas bumi selama 34 tahun.
Pernyataan itu disampaikan Hashim dalam forum International Indonesia CCS Forum 2026 yang berlangsung di Hotel Mulia Jakarta. Dalam forum tersebut, ia memaparkan konteks strategis yang dihadapi Indonesia saat ini, yaitu tekad mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional setidaknya 8 persen dalam beberapa tahun ke depan, sembari tetap memegang teguh komitmen mencapai target emisi nol bersih (net zero emissions) pada 2060.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Solusi CCUS Menjaga Industri dan Menekan Emisi
Untuk menyelaraskan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan komitmen dekarbonisasi, teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS) ditempatkan sebagai solusi strategis. Pendekatan teknologi ini dinilai mampu menjaga keberlangsungan sektor industri energi nasional sekaligus secara aktif menekan laju pelepasan emisi ke atmosfer.
Hashim menerangkan bahwa karbon dioksida (CO2) yang ditangkap dapat diutilisasi lebih lanjut untuk berbagai kebutuhan hilir yang bernilai ekonomi. Salah satunya adalah pemanfaatan CO2 dalam budidaya dan produksi mikroalga. Hasil dari pemanfaatan mikroalga tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan bakar nabati (biofuel) hingga pakan ternak. Selain itu, eksperimen pemanfaatan karbon juga membuka peluang produksi bahan bermanfaat lainnya seperti spirulina dan klorela (chlorella).
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Mengenai kesiapan implementasi teknologi penangkapan emisi di fasilitas industri, Hashim turut memaparkan hasil pengujian teknologi penangkapan karbon asal Jepang yang telah diuji coba di Petrokimia Gresik. Dari uji coba yang dilakukan, teknologi tersebut dilaporkan memiliki kinerja efektif dengan kemampuan mereduksi emisi karbon sekitar 90 persen hingga 95 persen di fasilitas tersebut.






