Aktivitas perdagangan saham di pasar modal domestik dibuka dengan tekanan pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (14/9/2026) pukul 09.00 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 0,13% atau terkoreksi 8,77 poin ke level 6.532,61.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks mengawali sesi di posisi 6.533,87, lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.541,38. Pada menit-menit awal transaksi, tercatat sebanyak 249 saham menguat, 143 saham melemah, dan 571 saham belum bergerak. Nilai transaksi awal mencapai Rp 248,4 miliar yang melibatkan 361,7 juta lembar saham dalam 44.110 kali transaksi.
Tekanan Minyak Mentah dan Geopolitik Timur Tengah
Pelemahan IHSG pada awal sesi dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga komoditas energi. Ketegangan kembali meningkat menyusul serangan Houthi terhadap Arab Saudi serta gangguan pada jalur pelayaran kawasan Teluk yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kekhawatiran pasar turut diperberat oleh kerusakan pipa minyak Arab Saudi yang menjadi rute pengiriman alternatif tanpa melintasi Selat Hormuz. Jika gangguan ini terus berlanjut, hingga 4% pasokan minyak dunia berpotensi terdampak. Situasi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah global yang telah melampaui level US$100 per barel pada pekan lalu.
Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Selain sentimen komoditas, laju IHSG dibayangi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Data inflasi AS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) Agustus naik 0,4% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan 0,1% pada Juli. Inflasi inti juga tercatat naik 0,3% secara bulanan, melampaui estimasi konsensus sebesar 0,2%.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Berdasarkan pantauan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menuju kisaran 3,75%–4,00% dalam pertemuan 15-16 September 2026 telah mencapai 87,3%. Kenaikan suku bunga AS berpotensi mendongkrak penguatan dolar AS serta imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang berisiko menekan pergerakan nilai tukar rupiah dan instrumen saham di negara berkembang.
Di sisi lain, penguatan Wall Street pada penutupan Jumat malam sempat memberikan bantalan sentimen positif bagi bursa domestik. Sepanjang pekan ini, pergerakan pasar saham masih akan menanti sejumlah rilis indikator penting, termasuk data penjualan ritel China, perkembangan utang luar negeri Indonesia, serta keputusan kebijakan moneter dari The Fed dan Bank of Japan.






