Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama hari Rabu, 9 September 2026. Indeks komposit melemah 38,95 poin atau 0,58% hingga mendarat di posisi 6.647,49.
Sepanjang paruh pertama perdagangan, pergerakan IHSG berfluktuasi dengan rentang harian yang cukup lebar. Indeks sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.707,30 sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh titik terendah sementara di level 6.642,15 menjelang rehat siang.
Data perdagangan mencatat aktivitas transaksi mencapai volume 21,61 miliar lembar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali. Total nilai transaksi perdagangan pada sesi pertama terhimpun sekitar Rp 8,32 triliun. Dari sisi pergerakan emiten, tekanan jual mendominasi pasar dengan 355 saham mengalami penurunan harga, 268 saham berhasil menguat, dan 168 saham lainnya bergerak mendatar.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

BBCA dan Sektor Finansial Jadi Pemberat Indeks
Berdasarkan data Refinitiv, pelemahan IHSG dipicu oleh koreksi di mayoritas sektor bursa. Tiga sektor yang mencatatkan pelemahan terdalam pada sesi pertama adalah sektor konsumer non-primer, sektor kesehatan, serta sektor finansial.
Secara individual, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi beban utama yang menahan laju indeks komposit siang ini. Koreksi pada saham BBCA menyumbang penurunan hingga 14 poin terhadap total pelemahan IHSG. Selain perbankan berkapitalisasi besar tersebut, tekanan jual pada saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turut memperberat pergerakan indeks secara keseluruhan.
Pengaruh Sentimen Global dan Komoditas Minyak
Pelemahan bursa domestik sejalan dengan volatilitas yang membayangi pasar global. Pada penutupan perdagangan Selasa di Wall Street, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah signifikan; indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,2%, S&P 500 turun 0,6%, dan Nasdaq Composite terpangkas 0,3%.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Ketidakpastian geopolitik turut mengerek harga komoditas energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak melampaui US$99 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus level US$94 per barel pada perdagangan pascapasar. Lonjakan harga ini dipicu oleh kabar mengenai aksi serangan kedua Iran terhadap kapal Angkatan Laut AS dalam sepekan terakhir. Di sisi perdagangan internasional, dinamika kian memanas seiring langkah Kanada yang memberlakukan tarif balasan terhadap produk-produk asal Amerika Serikat.
Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan indeks regional terpantau bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,23% dan Topix melemah 0,35%, meski data ekonomi Jepang baru-baru ini menunjukkan revisi pertumbuhan yang lebih tinggi. Sebaliknya, bursa Korea Selatan mencatatkan penguatan dengan indeks Kospi naik 0,36% dan Kosdaq bertambah 0,47%, di tengah rilis data pelebaran surplus perdagangan China.






