Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan duka cita mendalam dan simpati atas bencana banjir bandang serta tanah longsor yang melanda wilayah perbatasan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Nepal pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Bencana hidrometeorologi dahsyat tersebut menghantam wilayah Gyirong di Wilayah Otonomi Xizang, China, serta Distrik Rasuwa di Provinsi Bagmati, Nepal. Peristiwa ini merenggut ratusan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan parah di kawasan lintas batas kedua negara.
Kemlu RI menegaskan rasa solidaritas kepada pemerintah serta seluruh masyarakat China dan Nepal, khususnya kepada para keluarga korban dan warga yang terdampak langsung oleh bencana ini. Indonesia juga menaruh harapan agar seluruh rangkaian operasi pencarian, penyelamatan (SAR), penanganan korban, hingga langkah pemulihan pascabencana dapat berjalan lancar dan efektif.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Dampak Kerusakan dan Jumlah Korban
Dampak hantaman air bah dan longsoran material lumpur terekam jelas di lapangan. Rekaman kamera pengawas (CCTV) di area Gyirong memperlihatkan warga berlarian menyelamatkan diri sesaat sebelum banjir bandang bermuatan lumpur tebal menerjang dan menghancurkan gedung fasilitas lintas batas China-Nepal.
Hingga saat ini, kepolisian Nepal mengonfirmasi telah menemukan sedikitnya 157 jenazah korban meninggal dunia. Sementara itu, sekitar 1.300 orang lainnya dilaporkan masih hilang dan berada dalam proses pencarian oleh otoritas setempat.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Dugaan Pemicu dan Analisis Pakar
Mengenai pemicu bencana, laporan awal menunjukkan adanya guncangan gempa bumi di salah satu area yang memicu runtuhnya gletser. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, awalnya menyampaikan bahwa gempa memicu longsoran salju dan es, yang kemudian menyebabkan luapan banjir bandang di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi di kawasan Rasuwa.
Di sisi lain, para pakar iklim dari International Centre for Integrated Mountain Development yang berbasis di Kathmandu menilai longsoran gletser merupakan penyebab utama dari gelombang banjir tersebut. Berdasarkan pengamatan hidrologi, volume dan kecepatan air terpantau luar biasa besar, ditandai dengan kenaikan permukaan air sungai yang mencapai hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit pada puncak kejadian.






