Bank DBS Indonesia menerapkan pendekatan selektif dalam menyalurkan pendanaan ke sektor otomotif nasional. Langkah kehati-hatian ini diambil seiring pergeseran industri yang tengah menjalani transisi dari kendaraan berbahan bakar konvensional atau internal combustion engine (ICE) menuju ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Executive Director, Head of Large Corporates & ESG Lead Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Ello Hanson, membeberkan bahwa perseroan mengandalkan dua parameter utama untuk mengukur kelayakan pembiayaan (bankability) suatu proyek korporasi otomotif dan rantai pasoknya.
Ketahanan Diversifikasi Unit Bisnis
Kriteria pertama bertumpu pada kapasitas perusahaan dalam mendiversifikasi portofolio usaha atau strategic business unit (SBU). Model bisnis yang memiliki ragam lini operasional dinilai lebih tangguh menghadapi fluktuasi pasar otomotif yang dinamis.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Menurut Ello, kemampuan diversifikasi membuat risiko bisnis tidak bertumpu pada satu segmen semata. Jika salah satu unit usaha mengalami penurunan performa akibat perubahan tren industri, kontribusi dari unit bisnis strategis lainnya dapat menutup kekurangan tersebut dan menjaga kesinambungan arus kas.
Kekuatan Fundamental Finansial sebagai Penyangga
Kriteria kedua berfokus pada kesiapan dan ketersediaan pendanaan yang ditopang oleh fundamental keuangan perusahaan. Struktur permodalan yang sehat menjadi syarat mutlak bagi korporasi yang ingin mendapatkan dukungan fasilitas kredit perbankan.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Fundamental keuangan yang kokoh berfungsi sebagai penyangga (buffer) saat entitas bisnis harus mengeksekusi restrukturisasi operasional. Ruang fiskal internal ini memberi keleluasaan bagi pelaku industri ketika perlu melepas portofolio yang sudah tidak relevan maupun saat menyuntikkan modal awal untuk menangkap peluang di segmen rantai pasok kendaraan ramah lingkungan.
Melalui dua penyaring tersebut, perbankan memastikan bahwa pembiayaan yang disalurkan tetap mengedepankan mitigasi risiko kredit sekaligus mendukung pelaku industri yang adaptif terhadap transformasi industri transportasi.






