Warga di Kawasan Transmigrasi Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, kini memiliki kemudahan baru dalam mengurus administrasi kependudukan. Jarak perjalanan yang jauh tidak lagi menjadi hambatan utama ketika masyarakat perlu memproses dokumen penting seperti Kartu Keluarga (KK) maupun Akta Kelahiran. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghadirkan inovasi digital yang memungkinkan warga memulai pengajuan dokumen cukup melalui telepon seluler.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot ITS Yogantara Setya Dharmawan menjelaskan bahwa inovasi tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di kawasan transmigrasi Ransiki. Langkah ini merupakan wujud bakti TEP melalui riset bertema "Digitalisasi Kelembagaan Organisasi Non-Profit di Kawasan Transmigrasi Ransiki". Program ini dirancang untuk menjawab tantangan akses pelayanan publik bagi warga yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sistem digital ini dihadirkan guna mendukung Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Manokwari Selatan dalam memperluas jangkauan pelayanannya. Melalui platform digital tersebut, masyarakat dapat menyampaikan pengajuan kebutuhan administrasi kependudukan mereka lebih awal tanpa harus menempuh perjalanan terlebih dahulu ke kantor Disdukcapil.
Pengembangan teknologi ini bukan dirancang untuk menggantikan peran petugas pelayanan kependudukan secara tatap muka. Sebaliknya, sistem digital ini berfungsi memperkuat skema pelayanan proaktif atau jemput bola. Data permohonan yang dikirimkan oleh warga dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk mengidentifikasi dan memetakan kebutuhan masyarakat secara akurat sebelum petugas Disdukcapil turun langsung ke kampung-kampung dan wilayah pelosok yang terisolasi dari pusat layanan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Menteri Transmigrasi RI M Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa kehadiran TEP ITS membuktikan pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dan inovasi yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, transformasi di kawasan transmigrasi tidak sekadar berfokus pada pembangunan fisik kawasan, melainkan juga berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan sumber daya manusia, teknologi, dan inovasi terpadu.






