Rencana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) PT Swayasa Prakarsa Tbk resmi mengalami penundaan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kepastian penundaan emiten manufaktur alat kesehatan asal Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut diumumkan menyusul surat permohonan yang diajukan langsung oleh pihak perseroan kepada otoritas bursa.
Mengapa IPO Swayasa Prakarsa Ditunda?
Bursa Efek Indonesia mengonfirmasi telah menerima Surat Permohonan Penundaan Pelaksanaan Rencana Penawaran Umum Perdana Saham dari PT Swayasa Prakarsa Tbk tertanggal 1 September 2026. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menjelaskan bahwa penundaan dilakukan karena perseroan belum mendapatkan restu final dari regulator pasar modal.
Hingga batas waktu tanggal 1 September 2026, PT Swayasa Prakarsa Tbk belum memperoleh Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melaksanakan penawaran umum.
Penundaan ini berkaitan langsung dengan dokumen laporan keuangan yang digunakan perseroan. Dalam proses IPO tersebut, Swayasa Prakarsa menyertakan Laporan Keuangan per 28 Februari 2026. Sesuai regulasi yang berlaku, masa berlaku laporan keuangan tersebut telah kedaluwarsa pada 31 Agustus 2026.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Rencana Emisi Saham dan Target Dana SWAP
Sebelum memutuskan penundaan pelaksanaan IPO, PT Swayasa Prakarsa Tbk yang dipimpin oleh Direktur Utama Bondan Ardiningtyas telah merancang penawaran saham ke publik dengan target perolehan dana segar hingga Rp45,22 miliar.
Dalam rencana penawaran perdana tersebut, perseroan berniat menerbitkan sebanyak 323 juta saham baru. Jumlah ini mewakili 30,3 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penawaran umum perdana saham terlaksana.
Tahapan awal proses IPO sebenarnya sudah mulai berjalan. Masa penawaran awal atau book building telah berlangsung pada rentang 24 hingga 27 Agustus 2026. Pada periode penawaran awal tersebut, harga saham SWAP ditawarkan pada kisaran Rp130 hingga Rp140 per lembar saham. Dalam aksi korporasi ini, perseroan menunjuk PT Sukadana Prima Sekuritas (AD) sebagai penjamin pelaksana emisi efek (underwriter).
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Rencana Alokasi Penggunaan Dana Hasil IPO
Berdasarkan prospektus emisi efek yang disiapkan, seluruh dana perolehan dari penawaran umum sedianya akan dialokasikan untuk mendanai tiga pos utama, yakni modal kerja, belanja modal (capital expenditure), serta pembayaran utang.
Dari target dana tersebut, sekitar Rp15,8 miliar direncanakan untuk kebutuhan modal kerja operasional. Rincian rencana alokasi modal kerja meliputi:
- Pembelian bahan baku sebesar Rp5 miliar.
- Pembelian peralatan penunjang produksi sebesar Rp2,3 miliar.
- Pembiayaan biaya operasional sebesar Rp4,6 miliar.
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sebesar Rp500 juta.
- Pengembangan sistem informasi sebesar Rp400 juta.
- Kegiatan pemasaran sebesar Rp2 miliar.
- Pengembangan portofolio produk baru senilai Rp1 miliar, yang mencakup pengembangan stent jantung, external ventricular drain (EVD), dan ventilator neonatal.
Selain modal kerja, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp12,2 miliar untuk pos belanja modal. Porsi belanja modal ini mencakup rencana pembangunan gedung manajemen dan distribusi di atas lahan seluas 1.450 meter persegi di Cangkringan, Sleman dengan nilai anggaran Rp10,7 miliar. Sisanya dialokasikan untuk pembelian aset gedung sebesar Rp500 juta serta pengadaan kendaraan operasional dan logistik sebesar Rp1 miliar.






