Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bagi calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro, pada Kamis (27/8/2026). Solikin dicalonkan untuk mengisi posisi Deputi Gubernur BI menggantikan Aida S. Budiman, yang telah dicalonkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Deputi Gubernur Senior BI.
Dalam paparannya di hadapan para anggota dewan, Solikin membawa visi strategis yang berfokus pada penyelesaian tantangan struktural perekonomian nasional melalui pendekatan terintegrasi.
Menjawab Tantangan Trilema Keberlanjutan
Solikin memaparkan bahwa salah satu fokus utama Bank Indonesia ke depan adalah mengatasi "trilema keberlanjutan". Konsep ini mencakup tiga pilar utama yang harus diraih secara beriringan: menjaga stabilitas ekonomi yang dinamis, mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta mewujudkan perekonomian yang inklusif.
Berdasarkan bekal 32 tahun pengalamannya berkarier di bank sentral, Solikin menegaskan bahwa ketiga pilar tersebut bukanlah pilihan yang saling meniadakan, melainkan elemen yang saling menopang satu sama lain untuk menciptakan fondasi ekonomi nasional yang tangguh.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Delapan Strategi Lewat Kerangka SEMANGKA Nusantara
Sebagai langkah konkret menjawab tantangan tersebut, Solikin menawarkan peta jalan kebijakan yang terangkum dalam kerangka "SEMANGKA Nusantara versi dua". Skema ini mencakup delapan pilar strategis yang disusun dalam tiga lapisan operasional:
1. Jangkar Kebijakan (S-E-M-A) - S (Stabilitas Dinamis untuk Pertumbuhan Berkelanjutan): Memosisikan stabilitas ekonomi sebagai fondasi utama penopang ekspansi jangka panjang. - E (Efektivitas Kebijakan Moneter dan Operasi Moneter yang Pro Market): Memperkuat kebijakan moneter yang responsif terhadap dinamika mekanisme pasar. - M (Makroprudensial Adaptif, Inovatif, dan Pro Growth): Menjaga ketahanan sistem keuangan sekaligus memberi ruang ekspansi bagi pertumbuhan sektor riil. - A (Akselerasi Pendalaman Pasar Keuangan): Memperluas instrumen dan likuiditas pada pasar keuangan domestik.
1. Mesin Transformasi (N dan G) - N (Navigasi Ekonomi dan Keuangan Inklusif, Termasuk UMKM): Memperlebar akses pembiayaan dan layanan keuangan bagi kelompok masyarakat produktif dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. - G (Gerak Cepat Digitalisasi Sistem Pembayaran): Menjawab laju inovasi teknologi transaksi dengan penyediaan infrastruktur pembayaran yang modern dan aman.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

1. Pengungkit Implementasi (K dan A) - K (Kelembagaan BI yang Kredibel dan Berkelola Baik): Memperkuat tata kelola internal untuk memelihara kepercayaan publik terhadap otoritas moneter. - A (Aksi Bersama dan Sinergi Kebijakan Nasional): Mempererat koordinasi lintas otoritas antara BI dan pemerintah demi menjaga stabilitas dan mempercepat agenda pembangunan ekonomi.
Strategi yang dipaparkan tersebut dinilai selaras dengan prinsip dasar Soemitronomics, yakni membangun ketahanan ekonomi dari kekuatan domestik, memperkokoh fondasi struktural, dan memastikan setiap arah kebijakan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat luas.






