Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan jelang akhir pekan. Mata uang Garuda terdepresiasi 0,31% dan bertengger di posisi Rp17.585/US$ pada penutupan pasar, setelah sempat tertekan lebih dalam di sepanjang hari.
Pergerakan kurs sejak pembukaan langsung menunjukkan tren penurunan sebesar 0,23% ke level Rp17.570/US$. Tekanan berlanjut hingga rupiah menyentuh titik terlemah hariannya di Rp17.620/US$, sebelum akhirnya memangkas kerugian dengan menguat 35 poin menuju level penutupan. Kendati melemah pada perdagangan harian, performa rupiah secara kumulatif masih mencatatkan apresiasi sekitar 0,26% dalam sepekan dibanding penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.630/US$.
Faktor Eksternal Penekan Kurs
Penguatan mata uang Negeri Paman Sam didorong oleh sejumlah data ekonomi global dan kenaikan yield obligasi. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau naik 0,05% ke posisi 99,096 pada pukul 15.00 WIB.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis data indeks harga produsen (PPI) Amerika Serikat yang melonjak 0,4% pada Agustus. Kenaikan inflasi di tingkat produsen tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve.
Berdasarkan pantauan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September kini mencapai 71,3%, melonjak dari 61,2% pada posisi perdagangan sebelumnya.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury yield) naik 2,3 basis poin ke 4,965%. Kenaikan harga komoditas turut memberi tekanan tambahan pada pasar mata uang kawasan, di mana harga minyak mentah Brent di pasar Asia menguat 1,2% menjadi US$108,96 per barel setelah menembus level US$100 pada awal pekan.






