Dokter spesialis forensik RS Bhayangkara Banten, dr. Donald Rinaldi Kusumaningrat, menyatakan bahwa jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano tidak cocok dengan data antemortem rombongan jurnalis yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan pemeriksaan awal, terdapat sejumlah ketidaksesuaian antara kondisi fisik jenazah dan data korban yang dilaporkan hilang. Salah satu perbedaan signifikan terletak pada pakaian dalam yang dikenakan jenazah yang tidak sesuai dengan catatan antemortem. Selain itu, dari rekaman video yang beredar, jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano tersebut diketahui berkulit putih dan hanya mengenakan celana berwarna biru dan putih.
Tes DNA Tetap Dilakukan
Kendati hasil pengamatan fisik menunjukkan ketidakcocokan, pihak kepolisian tetap melakukan uji DNA untuk memastikan identitas jenazah secara ilmiah. dr. Donald mengungkapkan bahwa Polda Banten telah mengirimkan data DNA milik keluarga korban hilang ke Polda Bengkulu untuk dilakukan proses pencocokan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Penanganan dan proses identifikasi jenazah selanjutnya dilakukan oleh Tim DVI Biddokkes Polda Bengkulu. Menurut keterangan dr. Donald, data DNA baru saja dikirimkan dan hasil uji pencocokan diperkirakan memakan waktu hingga satu minggu.
Kronologi dan Daftar Korban Hilang
Peristiwa hilangnya rombongan ini bermula ketika lima orang jurnalis bersama tiga kru kapal berangkat menuju kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9). Rombongan tersebut kemudian dinyatakan hilang sehingga proses operasi pencarian oleh Tim SAR mulai dikerahkan sejak Selasa (8/9).
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Kelima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni M Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Sementara itu, tiga kru kapal yang turut dinyatakan hilang bersama rombongan jurnalis adalah Warta atau Surahman selaku kapten kapal, Sukarman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto selaku pemandu.






