Prospek kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) membayangi arah pergerakan pasar keuangan domestik hingga akhir 2026. Pelaku pasar memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 hingga 50 basis poin (bps) di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, yang secara langsung memengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam perhitungan Recapital Asset Management, arah pergerakan IHSG berada pada rentang yang cukup lebar tergantung respons kebijakan moneter global dan domestik. Pada skenario terbaik, IHSG diproyeksikan mampu mencapai rentang level 7.000 hingga 7.300. Sebaliknya, jika tekanan eksternal memburuk, skenario negatif membuka ruang penurunan indeks saham hingga ke level 6.000. Realisasi target tersebut sangat ditentukan oleh keputusan suku bunga The Fed, respons BI-Rate, serta ketahanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dorongan Data Makroekonomi AS
Ekspektasi pengetatan moneter lanjutan tidak lepas dari rilis indikator ekonomi di Amerika Serikat. Direktur Utama Recapital Asset Management, Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, menyatakan bahwa prospek kenaikan Fed Funds Rate (FFR) ditopang oleh data makroekonomi AS yang masih solid. Salah satunya adalah data ketenagakerjaan non-farm payroll (NFP) yang tetap kuat, dipadukan dengan tren inflasi AS yang masih bertahan di level tinggi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kombinasi data ketenagakerjaan yang kuat dan inflasi yang belum melandai sepenuhnya memperkuat sinyal bahwa era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari perkiraan awal pasar.
Imbas ke SBN, BI-Rate, dan Reksa Dana
Tekanan kebijakan moneter global juga berdampak pada instrumen surat berharga dan pasar obligasi. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun diproyeksikan berada di level 7,2%, dengan rentang pergerakan antara 6,7% hingga 7,8%. Di ranah domestik, Bank Indonesia diperkirakan masih akan menahan posisi BI-Rate hingga akhir tahun 2026, meski langkah tersebut akan terus disesuaikan dengan dinamika suku bunga The Fed dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Lingkungan suku bunga tinggi (higher for longer) ini turut mengubah lanskap kinerja portofolio investasi, khususnya pada industri reksa dana. Reksa dana pendapatan tetap (RDPT) berpeluang membukukan potensi imbal hasil yang cukup positif dengan posisi yield SBN 10 tahun di level 7,1% hingga 7,2%. Sementara itu, kinerja reksa dana kelas aset saham akan sangat bergantung pada volatilitas dan tren pergerakan IHSG.






