Bank Indonesia (BI) memperketat pengawasan terhadap lalu lintas valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ketidakpastian pasar global. Langkah tersebut difokuskan pada pemantauan intensif terhadap institusi perbankan maupun korporasi yang mencatatkan aktivitas pembelian dolar Amerika Serikat (AS) dalam jumlah besar.
Kebijakan pengawasan ini dijalankan melalui kerja sama erat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dibarengi penegakan kepatuhan pelaporan lalu lintas devisa bagi para pelaku pasar.
Pengawasan Valas dan Koordinasi Lintas Lembaga
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral tidak bergerak sendiri dalam mengawal stabilitas pasar valas. Koordinasi dengan OJK diarahkan untuk memetakan serta mengawasi perilaku transaksi korporasi dan perbankan yang berpotensi memicu volatilitas berlebih pada kurs rupiah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Selain memantau transaksi pembelian valas skala tinggi, BI memperkuat instrumen pengawasan dengan menertibkan kewajiban pelaporan devisa. Kepatuhan pelaporan ini diposisikan sebagai dasar pemantauan arus modal keluar-masuk agar transmisi likuiditas domestik tetap terukur.
Proyeksi Kurs dan Bauran Kebijakan Moneter
Menghadapi tantangan ketidakpastian global, BI memperkirakan pergerakan rupiah pada 2027 akan berada dalam tren menguat pada rentang Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS. Proyeksi tersebut didasarkan pada perhitungan risiko eksternal serta efektivitas bauran instrumen moneter yang disiapkan otoritas.
Untuk menjaga stabilitas di pasar, bank sentral menerapkan serangkaian strategi utama, meliputi:
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

- Intervensi terukur di pasar valas untuk mengimbangi lonjakan permintaan dolar AS.
- Pemanfaatan kebijakan suku bunga serta instrumen lindung nilai (hedging) guna memitigasi risiko volatilitas kurs.
- Pendalaman pasar uang dan valas domestik guna memperbanyak opsi instrumen investasi jangka pendek.
- Pengelolaan likuiditas pasar dan cadangan devisa secara aktif.
Penopang Cadangan Devisa dan Sinergi Fiskal
Stabilitas nilai tukar rupiah ke depan juga ditopang oleh penguatan penerimaan devisa dari sektor riil. Implementasi kebijakan ekspor satu pintu dan penerapan regulasi Peraturan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (PP DHE SDA) diharapkan mampu meningkatkan aliran masuk devisa sekaligus penerimaan negara.
Destry menjelaskan bahwa penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter bank sentral menjadi jangkar utama dalam mempertahankan stabilitas makroekonomi. Sinergi ini ditujukan untuk menjaga daya tarik investasi portofolio asing ke pasar domestik sekaligus memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai pada sistem perbankan nasional.






