Kualitas aset PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) di segmen kredit mikro menunjukkan pemulihan nyata pada semester I-2026. Sejumlah indikator risiko pembiayaan mencatatkan perbaikan terukur jika dibandingkan dengan tekanan pemburukan kualitas kredit pada periode sebelumnya.
Perbaikan tersebut tecermin dari rasio pinjaman berisiko atau Loan at Risk (LAR) BRI yang turun menjadi 9,2% pada kuartal II-2026. Angka ini membaik dari posisi 9,7% pada kuartal I-2026 dan menyusut cukup dalam dari level 10,8% pada kuartal II-2025. Di saat yang sama, rasio kredit dalam perhatian khusus atau special mention loan (SML) terkoreksi ke posisi 3,7% pada kuartal II-2026, setelah berada di level 4,2% pada kuartal I-2026 dan 5,2% pada kuartal II-2025. Tingkat pencadangan terhadap LAR tetap terjaga di level 57%, meningkat bertahap dari 56% pada kuartal sebelumnya dan 53% pada kuartal II-2025.
Melandainya Tekanan NPL dan Pengetatan Kualitas
Penurunan risiko juga terlihat dari laju penurunan kualitas kredit debitur. Rata-rata net downgrade menuju kredit macet (non-performing loan/NPL) melandai ke Rp1,7 triliun pada kuartal II-2026. Angka ini turun dari sekitar Rp2 triliun pada kuartal I-2026, sekaligus terpangkas lebih dari separuh puncaknya yang pernah menembus Rp3,5 triliun pada Januari 2025.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kualitas pinjaman baru yang disalurkan menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Rasio kredit yang turun status menjadi SML setelah enam bulan masa penyaluran berada di level 2,4% untuk pinjaman yang dicairkan pada kuartal IV-2025. Sebagai perbandingan, rasio pemburukan tersebut sempat mencapai 5% untuk pinjaman yang disalurkan pada kuartal I-2025.
Pergeseran Portofolio dan Realisasi Laba
Langkah pengetatan risiko berdampak pada laju penyaluran mikro. Kredit mikro BBRI tercatat tumbuh 6% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II-2026, di tengah penurunan penyaluran Kupedes sebesar 21% YoY.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Meskipun segmen mikro melambat, total kredit BRI secara konsolidasi tetap tumbuh 16% YoY dan naik 5% secara kuartalan (quarter-on-quarter) pada kuartal II-2026, melampaui panduan perseroan. Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen komersial dan korporasi yang masing-masing melesat 58% dan 47% YoY.
Kinerja operasional tersebut mendorong laba bersih BRI mencapai Rp30,9 triliun sepanjang semester I-2026, tumbuh 17% YoY. Menanggapi perbaikan kualitas aset dan ekspansi pembiayaan, Indo Premier merevisi proyeksi pertumbuhan kredit BRI pada 2026 menjadi 8%–10% dari panduan awal 7%–9%. Di sisi lain, BNI Sekuritas mencatat BRI sebagai satu-satunya bank BUMN besar yang tidak merevisi turun panduan marjin bunga bersih (net interest margin/NIM).






