Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luasan area yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatra Selatan telah mencapai sekitar 1.926 hektare atau setara dengan 19,26 kilometer persegi per hari Sabtu, 22 Agustus. Skala kebakaran hutan dan lahan di wilayah ini terbilang sangat luas jika disandingkan dengan perbandingan wilayah administratif perkotaan. Luas lahan yang terbakar di Sumatra Selatan tersebut tercatat mencapai tiga kali lipat dari luas Kecamatan Menteng di Jakarta, yang memiliki luas wilayah sebesar 6,53 kilometer persegi.
Guna mengendalikan dan mengatasi kobaran api yang meluas di Sumatra Selatan, BNPB telah mengerahkan kekuatan personel di lapangan. Sebanyak sekitar 11.567 personel gabungan diturunkan untuk melakukan penanganan secara langsung. Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatra Selatan ini diperkuat lewat jalur darat maupun udara dengan pengerahan sembilan unit helikopter yang difungsikan untuk kegiatan patroli pemantauan, pengeboman air (water bombing), serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Secara khusus di Palembang, BNPB telah menyiagakan sekitar sembilan unit armada dari Satuan Tugas (Satgas) Udara. Komposisi armada Satgas Udara di Palembang ini terdiri dari helikopter patroli, armada pemadaman water bombing, serta pesawat berjenis Caravan yang secara khusus dioperasikan untuk mendukung keberhasilan Operasi Modifikasi Cuaca. Pengerahan armada udara tersebut dilakukan guna memastikan pemantauan titik api berjalan cepat dan upaya pemadaman dapat menjangkau titik-titik kebakaran secara tepat sasaran.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Selain di Sumatra Selatan, penanganan kebakaran hutan dan lahan juga dilakukan secara intensif di Provinsi Riau. Di wilayah Riau, BNPB telah melaksanakan operasi pemadaman serta proses pendinginan pada lahan terbakar yang luasnya mencapai sekitar 16.249 hektare. Berdasarkan pemetaan wilayah, sejumlah daerah di Riau terpantau memiliki titik api yang cukup tinggi, khususnya di daerah Kabupaten Pelalawan yang mencakup kawasan hutan lindung, serta di wilayah Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hilir.
Dalam rangka menangani karhutla di Provinsi Riau tersebut, sebanyak 17.764 personel gabungan diterjunkan dalam proses pemadaman di darat. Penanganan di Riau turut didukung oleh kekuatan udara melalui pengerahan sekitar tujuh unit helikopter yang terdiri atas helikopter jenis Bell, Caravan, dan armada water bombing. Proses penanggulangan karhutla ini dilaksanakan secara terpadu bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, dan pihak TNI.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan oleh BNPB juga dilaksanakan di Provinsi Jambi dengan mengerahkan enam unit helikopter pendukung. Armada udara yang dikerahkan di Jambi meliputi helikopter jenis Bell, satu unit pesawat Caravan untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca, serta empat unit helikopter water bombing. Pengerahan personel darat bersama armada udara di berbagai provinsi ini terus dioptimalkan guna mengendalikan karhutla di Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.






