Kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak langsung pada kondisi kesehatan masyarakat di Kalimantan Barat. Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak mencatat lonjakan kasus pneumonia hingga 20 persen, baik pada pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun ruang rawat inap.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait meluasnya gangguan pernapasan, terutama di tengah kabut asap yang menyelimuti wilayah perkotaan dan sekitarnya.
Bahaya Paparan Asap terhadap Paru-paru
Dokter spesialis paru Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, dr. Andreas, menerangkan bahwa paparan kabut asap karhutla berpotensi memperburuk kondisi saluran pernapasan. Dalam situasi tertentu, iritasi dan gangguan tersebut dapat berkembang lebih lanjut menjadi infeksi pneumonia.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Pneumonia merupakan peradangan pada jaringan paru-paru yang menyebabkan kantung udara (alveoli) terisi cairan atau nanah, sehingga proses pertukaran oksigen dan pernapasan menjadi terganggu. Reaksi awal tubuh saat terpapar asap umumnya berupa batuk dan bersin. Namun, bagi orang yang memiliki riwayat alergi atau asma, reaksi tersebut dapat muncul lebih cepat.
Paparan yang terjadi terus-menerus dan melebihi toleransi pertahanan tubuh berisiko berkembang menjadi sesak napas. Kelompok rentan, khususnya anak-anak, balita, ibu hamil, kelompok lanjut usia (lansia), serta warga dengan kondisi medis bawaan, menghadapi risiko gangguan kesehatan yang jauh lebih tinggi.
Kesiapan Fasilitas Medis dan Kewaspadaan Wilayah
Menghadapi kenaikan pasien penyakit pernapasan, Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Kesiapsiagaan tersebut mencakup penguatan tenaga kesehatan, penyediaan peralatan medis, penambahan kapasitas ruang perawatan, hingga penyusunan sistem koordinasi rujukan antarrumah sakit.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Selain Kota Pontianak, peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga menjadi perhatian di sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat yang terpantau memiliki konsentrasi titik panas (hotspot) tinggi. Daerah-daerah tersebut meliputi Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Sintang, dan Kapuas Hulu.
Guna meminimalkan dampak buruk polusi asap, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker sangat disarankan guna menyaring partikel berbahaya, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap infeksi paru-paru.






