Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Semeru, Jawa Timur, telah menghanguskan sekitar 598 hektare lahan dan vegetasi alami. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat kawasan Semeru kini menyisakan satu-satunya titik api aktif di wilayah tersebut setelah kebakaran di sejumlah daerah lain berhasil dikendalikan.
Titik api di wilayah Ponorogo, kawasan Gunung Arjuno-Welirang, serta Gunung Wilis sebelumnya telah dipadamkan. Berdasarkan pemantauan satelit melalui aplikasi Sipong, tercatat ada 91 titik panas (hotspot) di Jawa Timur. Meski demikian, pihak BPBD menjelaskan bahwa kemunculan titik panas tersebut tidak selalu mengindikasikan karhutla, melainkan bisa berasal dari panas aktivitas pabrik, pembakaran lahan pascapanen, atau proses pengolahan sampah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kendala Medan Curam dan Rencana Water Bombing
Penanganan karhutla di kawasan Gunung Semeru terkendala kondisi geografis yang ekstrem. Gatot Soebroto dari BPBD Jatim menyebutkan bahwa pemadaman melalui jalur darat sangat sulit dilakukan karena jalur menuju titik api sangat curam dan mustahil diakses personel darat tanpa bantuan armada udara.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Untuk mengatasi hambatan tersebut, BPBD Jatim telah meminta bantuan helikopter kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Unit helikopter yang sebelumnya sempat diperbantukan ke Lampung untuk operasi pemadaman di Pulau Sumatera dijadwalkan disiagakan di Bandara Abdulrachman Saleh guna menjalankan operasi pengeboman air (water bombing) di lereng Gunung Semeru.






