Keluarga Sukarman, anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I yang dilaporkan hilang di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK), masih terus menanti kabar baik terkait keselamatan para korban. Sukarman dinyatakan hilang bersama lima orang jurnalis yang berniat meliput aktivitas vulkanis gunung api tersebut di kawasan perairan Selat Sunda.
Anak kandung Sukarman, Yayat Suryadi, menyampaikan harapan besarnya agar sang ayah bersama seluruh orang di kapal dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Harapan tersebut diungkapkannya saat menunggu perkembangan informasi pencarian dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Sabtu (12/9/2026).
Perjalanan Mendadak Tanpa Persiapan
Menurut penuturan Yayat, Sukarman sudah lama bekerja sebagai ABK di kapal Arupadhatu. Dalam kesehariannya, Sukarman selalu bertugas mendampingi kapten kapal bernama Warta setiap kali ada tamu atau rombongan wisatawan yang hendak berlayar menumpangi kapal tersebut.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Namun, keberangkatan kapal menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9) lalu terbilang sangat mendadak. Perjalanan kilat tersebut dilakukan tanpa adanya persiapan matang, bahkan Sukarman diketahui tidak sempat membawa pakaian ganti. Sebelum adanya agenda dadakan tersebut, Sukarman sebenarnya memiliki jadwal pelayaran menuju perairan Ujung Kulon pada hari berikutnya, yakni Selasa (8/9).
Dugaan Terbawa Arus ke Laut Lepas
Hingga memasuki hari kelima proses pencarian, seluruh penumpang dan awak kapal belum berhasil ditemukan. Mereka yang masih dalam pencarian meliputi Sukarman selaku ABK, Warta sebagai kapten kapal, Heriyanto yang bertindak sebagai pemandu wisata (guide), serta lima orang jurnalis.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Yayat menilai hilangnya kapal tersebut menyimpan tanda tanya besar karena tidak ditemukannya serpihan kapal ataupun barang-barang yang mengapung di permukaan air. Ketiadaan tanda-tanda kerusakan atau kedaruratan di perairan memunculkan dugaan bahwa kapal Arupadhatu I terbawa arus menuju laut lepas, wilayah di mana kondisi sinyal komunikasi sangat sulit dijangkau.






