Fenomena kemarau panjang yang dipicu oleh El Nino Godzilla membawa dampak nyata terhadap operasional industri kelapa sawit nasional. Salah satu persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha adalah penurunan debit air hingga mengeringnya jalur sungai, yang selama ini menjadi sarana penting untuk transportasi dan pengangkutan crude palm oil (CPO).
Dampak kemarau panjang tersebut dipaparkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, dalam dialog bersama Aulia Wardhani di program Squawk Box yang disiarkan oleh CNBC Indonesia. Eddy menjelaskan bahwa surutnya air sungai secara langsung menghambat jalur logistik pengiriman komoditas sawit dari area perkebunan dan pabrik pengolahan.
Kesiapsiagaan Menghadapi El Nino dan Antisipasi Karhutla
Menyikapi ancaman musim kering ekstrem, GAPKI telah melakukan serangkaian langkah mitigasi sejak dini. Kesiapan tersebut dilaksanakan menyusul peringatan dini mengenai fenomena El Nino yang telah diterbitkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Dalam rangka meminimalkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kalangan pelaku usaha sawit secara proaktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga aparat keamanan.
Upaya pencegahan karhutla tersebut direalisasikan melalui penyediaan peralatan pemadaman kebakaran yang memadai di lapangan. Selain itu, pemantauan titik api (hotspot) juga diperketat dan dilakukan secara berkala di seluruh area konsesi perkebunan kelapa sawit guna mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Gangguan Distribusi Sungai dan Imbas ke Petani Rakyat
Meskipun langkah pencegahan karhutla telah disiapkan bersama instansi terkait, kemarau panjang tetap menimbulkan kendala logistik yang sulit dihindari. Pengeringan sungai menyebabkan kapal dan armada angkutan air tidak dapat mengangkut CPO dengan lancar sebagaimana mestinya.
Tersendatnya distribusi CPO melalui jalur transportasi sungai ini menimbulkan dampak berantai pada rantai pasok industri. Kelancaran proses produksi menjadi terganggu, yang kemudian berimbas pada terhambatnya pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik petani rakyat.






