Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan kronologi serta karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau yang tengah terjadi. Teuku mengungkapkan bahwa letusan Gunung Anak Krakatau tersebut diklasifikasikan ke dalam jenis erupsi Strombolian.
Dalam konferensi pers daring pada Minggu (6/9/2026), Teuku menyampaikan bahwa letusan tipe Strombolian pada Gunung Anak Krakatau dipicu oleh keberadaan magma cair dengan tekanan gas berskala sedang. Erupsi jenis Strombolian tergolong sebagai letusan gunung berapi yang bersifat eksplosif ringan serta memiliki interval waktu letusan yang relatif teratur dan berulang.
Karakteristik Letusan Strombolian
Teuku menjelaskan bahwa mekanisme letusan-letusan kecil yang berulang secara teratur tersebut menyebabkan terlemparnya berbagai material vulkanik ke udara. Fenomena letusan ini memunculkan lontaran kembang api lava, bom vulkanik, serta lapili ke udara.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Mengenai status aktivitas gunung tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan Gunung Anak Krakatau pada status Level 3 atau Siaga sejak 2 Juli 2026 atau awal Juli 2026. Setelah penetapan status tersebut, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pertamanya pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB.
Penurunan Frekuensi dan Puncak Erupsi
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menambahkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau masih terpantau terjadi sejak malam tadi hingga pagi ini. Meskipun demikian, frekuensi letusan gunung tersebut secara keseluruhan sudah mulai menunjukkan tren penurunan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Wijayanto memprediksi bahwa fase puncak erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini telah terlewati, kendati status gunung api tersebut masih berada pada level Siaga.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas di permukaan gunung, termasuk melalui pengamatan dan monitoring petir vulkanik. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, aktivitas petir dan permukaan masih terdeteksi, namun intensitasnya sudah mulai melandai jika dibandingkan dengan situasi saat letusan awal terjadi pada 4 September pukul 23.07 WIB.






