Ribuan warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian demi menghindari risiko reruntuhan bangunan akibat gempa susulan yang terus berulang. Kondisi ini dipicu oleh rasa cemas masyarakat terhadap guncangan lanjutan serta maraknya peredaran kabar bohong di media sosial.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto memaparkan situasi terkini tersebut dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun BNPB sejak gempa utama berkekuatan M 7,7 melanda pada 15 Agustus lalu, tercatat telah terjadi 7.259 kali aktivitas kegempaan di wilayah NTT. Kendati frekuensi gempa tergolong tinggi, intensitas guncangan yang dirasakan masyarakat menunjukkan tren penurunan signifikan, dari 142 kali menjadi 43 kali.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Suharyanto menegaskan bahwa dari ribuan gempa susulan tersebut, tidak ada satupun yang magnitudonya melampaui gempa awal M 7,7, meskipun BMKG sempat mencatat satu gempa susulan signifikan berkekuatan M 6,2.
Sebagian besar warga yang mengungsi bukan semata-mata karena rumah mereka hancur, melainkan akibat kekhawatiran psikologis. Isu tidak berdasar yang beredar di platform digital鈥攕eperti ancaman gempa yang jauh lebih dahsyat hingga potensi gelombang tsunami鈥攎enjadi faktor utama yang mendorong kepanikan warga untuk tetap berada di luar rumah.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Guna meredam kepanikan tersebut, BNPB bersama jajaran lintas sektor terus menggencarkan sosialisasi langsung kepada masyarakat untuk meluruskan kabar hoaks dan mengimbau warga agar hanya merujuk pada informasi resmi dari instansi terkait.






