Program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan kini mulai merambah ke sektor industri manufaktur. Salah satu kolaborasi nyata terlihat di Garut, Jawa Barat, di mana sektor swasta memercayakan proses produksinya kepada tenaga kerja dari lembaga pemasyarakatan.
Apa latar belakang pelaksanaan program kerja sama ini?
Inisiatif ini lahir dari upaya sinergi antara sektor swasta, yakni PT Mandraguna Pusaka Indonesia, dan Lapas Kelas IIA Garut. Pemilik PT Mandraguna Pusaka Indonesia, Rian, menyebutkan bahwa kerja sama ini juga didorong oleh masalah klasik limbah industri kulit di Garut yang belum terselesaikan selama puluhan tahun. Limbah kulit sapi dan domba tersebut kini diolah menjadi pupuk organik cair berbasis asam amino, menciptakan sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang bernilai ekonomi.
Berapa banyak warga binaan yang dilibatkan dan apa saja tugas mereka?
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Direktur Operasional dan HRD PT Mandraguna Pusaka Indonesia, Nazmul, menyatakan bahwa terdapat sembilan warga binaan dari Lapas Kelas IIA Garut yang bekerja di sebuah fasilitas produksi pupuk organik cair. Mereka menangani berbagai tahap pekerjaan di pabrik yang berlokasi di Karangpawitan, mulai dari pencucian bahan limbah kulit, perebusan, pencampuran, hingga pengemasan di gudang. Selama menjalani asimilasi di luar area lapas, mereka diawasi secara langsung oleh dua orang petugas.
Bagaimana kinerja para warga binaan selama bekerja di pabrik?
Menurut Nazmul, kesembilan warga binaan tersebut sangat kooperatif dan mampu belajar dengan cepat. Pada awalnya, pihak perusahaan harus memberikan instruksi secara rinci untuk setiap bagian pekerjaan. Namun, saat ini mereka sudah memahami tanggung jawab masing-masing tanpa perlu diarahkan secara terus-menerus. Peningkatan keterampilan ini sejalan dengan naiknya kapasitas produksi pabrik, dari yang awalnya 3.000 liter kini telah menyentuh angka 12.000 liter.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Bagaimana prospek ekonomi dan target pasar dari produk pupuk organik ini?
Kalapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, menjelaskan bahwa permintaan pasar cukup tinggi, terbukti dari pesanan pihak Trubus yang mencapai sekitar dua juta liter per tahun atau setara dengan kebutuhan 5.000 liter per hari. Saat ini pemasaran masih berfokus pada ranah daring, tetapi ada rencana perluasan ke pasar luring yang menyasar langsung para petani. Fasilitas pengolahan limbah ini baru menyerap sekitar dua persen limbah perajin kulit di Garut, dan ditargetkan akan terus ditingkatkan hingga mampu menampung 20 persen limbah industri kulit setempat.






