Perairan Selat Sunda kembali menjadi fokus pencarian setelah insiden hilangnya rombongan peliput di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Bachtiar Najamudin, meminta Tim SAR untuk terus mengoptimalkan upaya pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi gunung api tersebut.
Sultan menyampaikan rasa prihatin sekaligus duka cita yang mendalam atas nama lembaga DPD RI kepada keluarga para korban yang hingga kini belum ditemukan.
Kronologi dan Identitas Korban Hilang Kontak
Peristiwa hilangnya rombongan tersebut bermula saat delapan orang melakukan pelayaran mendekati Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9). Rombongan tersebut bertolak dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menggunakan kapal cepat guna melakukan peliputan erupsi.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Di antara delapan orang yang berada di dalam kapal, lima di antaranya merupakan jurnalis dari berbagai media massa, yaitu: - M Bagus Khoirunnas (LKBN ANTARA) - Ari Basuki (Merdeka.com) - Yudistiro Pranoto (iNews) - Firman Daus (Anadolu Agency) - Donal Husni (Jurnalis Lepas)
Selain kelima pewarta tersebut, tiga orang lainnya yang turut berada di atas kapal meliputi nakhoda speedboat bernama Warta, anak buah kapal (ABK) bernama Sukarman, serta seorang pemandu lokal bernama Heriyanto.
Dorongan Perlindungan dan Standar Keselamatan Kerja Pers
Menanggapi risiko tinggi peliputan di lokasi rawan bencana, Sultan Bachtiar Najamudin menegaskan pentingnya keselamatan bagi para pekerja media. Jurnalis diakuinya mengemban peran yang sangat krusial dalam menyajikan informasi faktual dan akurat kepada publik, namun faktor keselamatan jiwa harus senantiasa menjadi prioritas utama saat berada di lapangan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Ketua DPD RI turut mendesak perusahaan pers agar bertanggung jawab penuh terhadap standar keamanan para pekerjanya. Hal ini mencakup pembekalan pelatihan mitigasi risiko, pemahaman medan, jaminan asuransi, hingga penyediaan alat pelindung diri (APD) yang layak sebelum menerjunkan jurnalis ke area operasi yang berbahaya.
Hingga saat ini, koordinasi dan proses pencarian oleh tim penyelamat terus didorong agar para korban dapat segera ditemukan.






