Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyoroti masih adanya kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren (ponpes). Menanggapi persoalan tersebut, Muzani menegaskan bahwa pondok pesantren perlu terus berinovasi dan melakukan evaluasi menyeluruh demi memperbaiki sistem pendidikan yang berjalan.
Hal tersebut disampaikan Ahmad Muzani saat menghadiri acara Global Islamic Holistic Education (GIES) pada Sabtu (5/9/2026). Menurutnya, dinamika dan tantangan yang dihadapi dunia pondok pesantren saat ini terus berkembang seiring dengan tuntutan zaman, sehingga ikhtiar perbaikan diri dan inovasi berkelanjutan menjadi sebuah keharusan.
Peran Pendidikan Holistik dan Pembentukan Karakter
Muzani menekankan pentingnya penerapan model pendidikan holistik di lingkungan pesantren. Pendekatan pendidikan ini dinilai tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu semata, melainkan juga menitikberatkan pada pembentukan karakter manusia dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Model pendidikan holistik yang selama ini dikembangkan di pesantren dinilai sangat potensial menjadi rujukan utama pengembangan SDM di masa depan, sekaligus dapat menginspirasi institusi-institusi pendidikan lainnya. Muzani juga menyatakan dukungannya terhadap model pendidikan tersebut, mengingat tradisi pesantren yang diwariskan para ulama dan kiai senantiasa mengedepankan nilai-nilai keindonesiaan, tradisi, dan keunikan lokal.
Lebih lanjut, Muzani menyebut konsep pendidikan holistik khas Indonesia yang telah mengakar di pondok pesantren ini sebagai gagasan orisinal yang berharga untuk ditawarkan bagi pengembangan peradaban dunia di masa-masa mendatang.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Dorongan Penguatan Tradisi Keilmuan Santri
Untuk menjaga dan memperkuat ekosistem belajar yang sehat, Muzani turut berpesan secara khusus kepada para santri di seluruh Indonesia. Ia mengimbau santri agar tidak berhenti mengasah kemampuan intelektual dan nalar kritis mereka.
Santri didorong untuk terus belajar, mendengar, membaca, bertanya, serta aktif berdiskusi. Menurut Muzani, rangkaian proses tersebut merupakan metode esensial untuk menguji kebenaran secara konsisten, sehingga tradisi keilmuan di pondok pesantren dapat senantiasa terpelihara dan teruji dengan baik.






