PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp31,2 triliun sepanjang semester I-2026. Perolehan tersebut mencerminkan kenaikan 17,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi semester I-2025 yang berada di angka Rp26,53 triliun.
Lonjakan profitabilitas BRI Group ditopang secara signifikan oleh kinerja anak usahanya, PT Pegadaian. Berdasarkan riset BNI Sekuritas, laba bersih Pegadaian melesat 84% yoy hingga mencapai Rp6,6 triliun pada semester I-2026. Dengan hasil tersebut, kontribusi Pegadaian telah melampaui 20% dari total laba bersih konsolidasi BRI Group.
Pertumbuhan laba Pegadaian didorong oleh ekspansi kredit yang mencapai 53% yoy, disertai net interest margin (NIM) yang terjaga di level 18,2%. Dari sisi lini bisnis, pendorong utama pembiayaan perseroan berasal dari penyaluran pinjaman gadai yang mencatatkan pertumbuhan 62% yoy.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sejak beroperasi dalam ekosistem Holding Ultra Mikro, skala usaha Pegadaian mencatatkan lonjakan signifikan. Per Juni 2026, total aset perseroan menyentuh Rp185,8 triliun, meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding posisi 2021. Pada rentang periode yang sama, nilai pembiayaan tumbuh hampir tiga kali lipat menjadi Rp155,1 triliun, sementara jumlah debitur yang dilayani bertambah dari 6,6 juta menjadi 9 juta nasabah.
Kinerja Lini Emas dan Dinamika Pendapatan Operasional
Ekosistem komoditas emas Pegadaian mencatatkan volume yang signifikan hingga paruh pertama 2026. Saldo tabungan emas perseroan tercatat mencapai 20,2 ton dengan nilai valuasi melampaui Rp48 triliun. Adapun outstanding pembiayaan gadai emas berada di kisaran 114 ton, sedangkan omzet transaksi cicil emas terealisasi sebesar 5,3 ton dengan valuasi mendekati Rp13 triliun.
Di segmen operasional emas lainnya per Juni 2026, volume perdagangan emas Pegadaian mencapai 9,5 ton dan layanan jasa titipan emas mengelola sekitar 3,7 ton. Selain itu, perseroan menghimpun deposito emas sebesar 2.229 kilogram serta menyalurkan pembiayaan modal kerja emas sebanyak 220 kilogram.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Di sisi lain, laporan kuartal II-2026 memperlihatkan adanya koreksi pada pos total pendapatan operasional lainnya (other operating income). Termasuk kontribusi dari penjualan emas, pos ini turun 0,5% yoy dan 6,1% secara kuartalan menjadi Rp13 triliun. Apabila penjualan emas dikesampingkan, pendapatan operasional lainnya yang bersifat inti terkoreksi 1,7% yoy ke posisi Rp12,4 triliun.
Penurunan pada pos operasional non-bunga tersebut dipengaruhi oleh pendapatan treasury yang turun 81% yoy dan 82% secara kuartalan menjadi Rp248 miliar. Selain itu, transaksi valuta asing berbalik membukukan kerugian sebesar Rp183 miliar, serta pos pemulihan aset hapus buku (recovery of written-off assets) menyusut 2% yoy. Kendati demikian, pendapatan dari komisi dan imbal jasa (fee and commission income) masih membukukan kenaikan 6,1% yoy.






