Strategi bisnis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dalam meraih profitabilitas kini menjadi sorotan utama di sektor ekonomi digital Indonesia. Di bawah kepemimpinan CEO GoTo, Hans Patuwo, perusahaan berhasil menunjukkan tren positif pada kinerja keuangan mereka yang dilaporkan baru-baru ini. Melalui artikel ini, kami merangkum berbagai informasi penting serta menjawab pertanyaan umum mengenai strategi, realisasi laba, serta penyesuaian target bisnis perusahaan pada periode kuartal kedua tahun 2026. Pertumbuhan ini mencerminkan langkah strategis perusahaan dalam mengoptimalkan berbagai lini bisnis unggulannya.
Bagaimana realisasi laba bersih GoTo pada kuartal II-2026?
Perusahaan GoTo sukses membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II-2026. Angka pencapaian ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan, yaitu naik 47 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Dengan hasil keuangan yang positif ini, GoTo mencatatkan pencapaian penting dengan meraih laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Selain itu, kinerja keuangan perusahaan secara menyeluruh juga diperkuat oleh pencapaian metrik keuangan lainnya, yaitu EBITDA Grup yang disesuaikan. Nilai EBITDA Grup yang disesuaikan tersebut untuk pertama kalinya berhasil melampaui angka Rp1,0 triliun.
Sektor bisnis mana yang mencatatkan pertumbuhan profitabilitas paling menonjol pada kuartal kedua tahun ini?
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Lini bisnis Financial Technology atau Fintech yang selama ini dikenal dengan nama Gopay menjadi pendorong utama pada periode kuartal kedua ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, tingkat profitabilitas dari lini bisnis Fintech ini berhasil melebihi tingkat profitabilitas dari bisnis On-demand Services atau yang lebih dikenal dengan layanan Gojek. Pendapatan bersih dari sektor Fintech ini tercatat tumbuh sebesar 53 persen secara tahunan hingga berhasil melampaui angka Rp2 triliun pada kuartal II-2026. Selanjutnya, EBITDA yang disesuaikan untuk segmen Fintech ini juga tercatat melonjak tajam sebesar 447 persen secara tahunan hingga mencapai Rp481 miliar.
Bagaimana dengan perkembangan kinerja keuangan dari segmen On-demand Services atau Gojek?
Segmen On-demand Services tetap menunjukkan performa operasional yang sangat stabil dan terus bertumbuh. Pendapatan bersih dari lini bisnis On-demand Services ini berhasil tembus hingga angka Rp3,6 triliun pada kuartal kedua tahun 2026. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan untuk segmen ini tercatat mencapai Rp464 miliar, yang mana mewakili peningkatan sebesar 41 persen secara tahunan. Kenaikan kinerja keuangan ini juga tercermin secara langsung pada peningkatan margin di berbagai sektor layanannya. Margin untuk segmen pengiriman makanan dan barang, yang mencakup layanan GoFood dan GoSend, tercatat naik menjadi 2,1 persen dari posisi 1,8 persen pada periode tahun lalu. Sementara itu, margin pada segmen mobilitas yang mencakup layanan GoRide dan GoCar juga mengalami kenaikan menjadi 5,0 persen dari posisi 3,0 persen pada tahun sebelumnya.
Apa kebijakan baru yang diterapkan perusahaan pada pertengahan tahun dan bagaimana dampaknya terhadap operasional?
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Perusahaan GoTo mulai menerapkan kebijakan komisi baru yang dipatok sebesar 8 persen. Kebijakan komisi operasional baru ini secara resmi mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut membawa dampak langsung terhadap proyeksi pendapatan di sektor layanan terkait pada masa mendatang. Sebagai konsekuensi dari penerapan kebijakan komisi 8 persen tersebut, manajemen GoTo mengambil langkah penyesuaian dengan memutuskan untuk menurunkan target setahun penuh khusus untuk segmen On-demand Services. Target untuk segmen tersebut kini disesuaikan menjadi berada di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.
Bagaimana penyesuaian target keuangan tahunan GoTo secara keseluruhan setelah adanya kebijakan baru tersebut?
Meskipun target keuangan untuk segmen On-demand Services mengalami penurunan sebagai akibat dari kebijakan komisi baru, manajemen GoTo mengimbanginya dengan menaikkan target setahun penuh untuk segmen Fintech. Target segmen Fintech tersebut dinaikkan menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun. Penyesuaian ke atas ini mencerminkan tingginya pertumbuhan layanan Gopay yang terus meningkat pesat di pasar. Di sisi lain, untuk target EBITDA Grup yang disesuaikan secara keseluruhan untuk satu tahun penuh, manajemen GoTo memutuskan untuk tidak mengubahnya. Perusahaan tetap mempertahankan target operasional tersebut pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.






