Langkah strategis penataan aset konektivitas telekomunikasi nasional mengalami perubahan penting pada awal tahun 2026. Tepat pada 1 Januari 2026, pengalihan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) resmi berlaku secara efektif. Pengalihan ini menandai mulainya fase baru dalam pengelolaan infrastruktur jaringan serat optik wholesale di Indonesia, di mana InfraNexia memegang peran sentral dalam mengoperasikan dan mengoptimalkan aset-aset konektivitas tersebut. Setelah memasuki fase operasional baru selama enam bulan, perkembangan kinerja perusahaan dipaparkan secara resmi oleh Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, pada hari Selasa, 4 Agustus 2026. Laporan tersebut memberikan gambaran menyeluruh mengenai capaian finansial dan pertumbuhan operasional perusahaan sepanjang semester pertama tahun 2026.
Mengawali enam bulan pertama pada tahun 2026, InfraNexia berhasil membukukan total pendapatan yang mencapai Rp 7,7 triliun. Apabila dicermati dari komposisi pendapatan tersebut, kontribusi terbesar masih didominasi oleh transaksi yang berasal dari ekosistem TelkomGroup. Dominasi ini selaras dengan peran strategis InfraNexia sejak awal pembentukannya, yaitu untuk mendukung dan memenuhi seluruh kebutuhan konektivitas di dalam grup usaha Telkom secara menyeluruh. Sebagai penyedia infrastruktur utama bagi grup induknya, InfraNexia memastikan keandalan jaringan serat optik yang dibutuhkan untuk menopang berbagai layanan telekomunikasi dan digital yang disajikan oleh TelkomGroup kepada masyarakat luas.








