Sudono Salim, pendiri Salim Group yang juga dikenal dengan nama Liem Sioe Liong, tercatat rutin menempuh perjalanan darat selama tiga jam dari Surabaya menuju Gunung Kawi di Jawa Timur sebanyak tiga hingga lima kali dalam setahun. Kunjungan berkala ke kuil-kuil Tionghoa di kawasan tersebut dilakukannya guna mencari petunjuk spiritual dan pertimbangan gaib sebelum mengeksekusi berbagai keputusan ekspansi bisnis berskala besar.
Ritual pencarian petunjuk yang dijalankan Salim kerap melibatkan metode tradisional ramalan, seperti menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi lidi bertuliskan pesan tertentu hingga sebatang lidi terjatuh. Tulisan pada lidi tersebut kemudian dibaca serta ditafsirkan oleh rahib atau peramal setempat untuk menimbang langkah korporasi yang hendak diambil.
Salah satu keputusan penting yang terpengaruh oleh pertimbangan spiritual tersebut berlangsung pada 1975. Ketika itu, Salim bersua dengan bankir Mochtar Riady dalam penerbangan menuju Hong Kong. Di tengah perbincangan, Mochtar mengutarakan rencananya membangun bank baru, sementara Salim tengah mencari sosok pemimpin untuk mengelola Bank Central Asia (BCA), Bank Windu Kencana, dan Bank Dewa Ruci.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Langkah Salim merekrut dan bermitra dengan Mochtar Riady didorong oleh saran seorang peramal di Gunung Kawi. Keputusan tersebut terbukti menjadi titik balik fundamental yang melesatkan BCA menjadi bank swasta terbesar di Indonesia mulai dekade 1980-an.
Kepercayaan terhadap aspek spiritual dan keselarasan tempat sejatinya telah tecermin sejak masa-masa awal pembentukan konglomerasi Salim. Pada 1968, saat Salim merintis aliansi bisnis bersama kelompok yang dikenal sebagai Gang of Four鈥攂eranggotakan Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad鈥攊a memilih ruang kantor yang sangat sederhana berdasarkan pertimbangan feng shui.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Alih-alih menempati ruangan megah, Salim memilih ruang sempit yang hanya memuat satu meja, satu pesawat telepon, dua kursi, dan tanpa pendingin udara (AC). Tata letak tersebut diyakininya mendatangkan peruntungan yang menopang pertumbuhan imperium bisnisnya dari sektor industri pangan hingga jasa keuangan.






