Soesalit merupakan putra dari pasangan pejuang dan tokoh terkemuka di Indonesia, yaitu R.A Kartini dan Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat. Ayahnya adalah seorang pejabat yang bertugas memimpin daerah sebagai Bupati Rembang. Selain terlahir dari sosok ayah yang berkedudukan tinggi di pemerintahan daerah, sejarah Indonesia kelak juga mencatat bahwa sang ibu, R.A Kartini, menjadi orang besar yang sangat dihormati oleh masyarakat luas.
Sebagai putra dari seorang pejabat pemerintahan, Soesalit sebenarnya memiliki hak secara garis keluarga untuk menggantikan ayahnya sebagai Bupati Rembang. Peluang untuk menduduki kursi kepemimpinan daerah tersebut terbuka lebar, bahkan banyak saudara yang berulang kali datang meminta serta membujuk Soesalit agar bersedia menjadi bupati. Walaupun desakan dari pihak keluarga terus berdatangan, Soesalit tetap mantap memberikan jawaban berupa penolakan dan memilih jalan pengabdian lain.
Sebagai pengganti pilihan untuk tidak menjadi bupati, Soesalit memutuskan untuk terjun ke dunia militer pada tahun 1943. Di awal perjalanan militernya, ia menjalani pelatihan yang diberikan oleh tentara Jepang sebelum akhirnya resmi bergabung sebagai anggota tentara Pembela Tanah Air (PETA). Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia bergulir, Soesalit secara praktis meneruskan baktinya dalam bidang pertahanan dengan menjadi bagian dari kesatuan Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kiprah Soesalit di dunia militer terus berkembang pesat hingga mencapai puncak kesuksesannya pada tahun 1946. Pada saat itu, dirinya diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro yang memimpin kesatuan pasukan terpenting dengan tanggung jawab menjaga keamanan ibu kota negara Republik Indonesia di Yogyakarta. Selain memegang komando pasukan di lapangan sebagai seorang jenderal bintang dua, Soesalit juga dipercaya mengemban jabatan strategis di tingkat pusat, salah satunya bertugas sebagai penasehat Menteri Pertahanan di lingkungan Kabinet Ali Sastro pada tahun 1953.
Sepanjang hidupnya, Soesalit dikenal memiliki integritas yang sangat tinggi dan tidak pernah mau memanfaatkan garis keturunannya demi memperoleh kemudahan atau simpati. Padahal, kala itu lagu mengenai ibunya yang berjudul "Ibu Kita Kartini" ciptaan komposer W.R Soepratman sudah sangat populer dan terus dinyanyikan oleh banyak orang di seantero negeri. Atasan Soesalit di lingkungan militer, Jenderal Nasution, menjadi saksi langsung yang melihat bagaimana sang jenderal bintang dua tersebut sama sekali tidak pernah mengumbar nama besar orang tuanya.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Jenderal Nasution juga menyaksikan secara langsung bahwa ketika sudah tidak lagi aktif menjalankan tugas, Soesalit lebih memilih untuk menjalani kehidupan yang melarat sebagai seorang veteran pejuang. Pria kelahiran Rembang ini secara sadar menolak untuk meminta hak-hak yang semestinya ia dapatkan sebagai seorang veteran kemerdekaan. Akibat memegang teguh prinsip hidup yang bersahaja dan mandiri tersebut, Soesalit tetap hidup dalam kemelaratan hingga akhirnya tutup usia pada tanggal 17 Maret 1962.






