Aksi penipuan menyasar anak-anak anggota komunitas sepeda di kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dua unit telepon seluler milik korban raib dibawa kabur pelaku yang menggunakan modus perekrutan pembuatan konten iklan parfum di aplikasi TikTok dengan iming-iming bayaran tunai.
Peristiwa ini bermula ketika pelaku yang belum teridentifikasi mendatangi sekelompok anak pesepeda dan menawarkan kompensasi sebesar Rp100.000 per orang untuk ikut serta dalam pembuatan video promosi parfum. Alih-alih mendapatkan bayaran, dua ponsel milik anak-anak tersebut justru dibawa lari. Pelaku bahkan sempat membawa salah satu korban menggunakan kendaraan sebelum menurunkannya seorang diri di area Pasar Rumput, Manggarai.
Kapolsek Metro Tanah Abang AKBP Dhimas Prasetyo mengonfirmasi bahwa kepolisian kini tengah menyelidiki kasus tersebut setelah menerima laporan dari masyarakat.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Polisi Lacak CCTV dan Periksa Korban
Untuk mengungkap identitas pelaku dan kronologi kejadian, tim Opsnal Reskrim Polsek Metro Tanah Abang mendatangi lokasi dan memeriksa kamera pengawas (CCTV) di sebuah restoran di Jalan Plaju Nomor 5, Kelurahan Kebon Melati. Namun, rekaman di lokasi tersebut belum dapat diakses akibat kendala sistem dan kendala kata sandi perangkat.
Sebagai langkah lanjutan, penyidik berencana mengambil rekaman CCTV dari kawasan stasiun MRT terdekat guna memetakan jalur pelarian pelaku. Petugas juga telah menghubungi salah satu korban bernama Amar untuk pembuatan laporan resmi dan menjadwalkan pemeriksaan terhadap korban lainnya, Kenzi, di kediamannya. Polisi turut menyiapkan laporan polisi model A demi mempercepat proses penanganan perkara.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Modus serupa sebelumnya juga sempat ramai di media sosial pada Minggu (6/9) pagi, menimpa rombongan pesepeda di kawasan BNI City, Sudirman, Jakarta Pusat. Dalam peristiwa tersebut, tiga ponsel dilaporkan raib usai korban dirayu membuat konten promosi parfum. Para korban saat itu sempat diberikan kartu ATM yang diduga palsu untuk mencairkan uang imbalan, tetapi proses penarikan tidak berhasil dilakukan.






