Arab Saudi memutuskan menutup total jaringan pipa minyak East-West Pipeline menyusul serangan udara dan drone yang menghantam infrastruktur vital tersebut di wilayah selatan Madinah. Insiden ini langsung memicu tindakan tegas di Baghdad, di mana pemerintah Irak memecat seorang komandan militer dan kepala kepolisian di Provinsi Maysan, serta menutup pos perbatasan utama di dekat wilayah Iran.
Investigasi yang dilakukan otoritas Riyadh dan Baghdad mengidentifikasi bahwa serangan drone tersebut berasal dari wilayah Irak yang menjadi basis operasional milisi pro-Iran. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengonfirmasi adanya kerusakan infrastruktur serta korban luka akibat serangan yang menyasar titik selatan Madinah tersebut.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pipa sepanjang 1.200 kilometer yang melintasi Semenanjung Arab tersebut merupakan jalur distribusi krusial dunia. Selama enam bulan terakhir di tengah penutupan Selat Hormuz, East-West Pipeline diandalkan untuk mengalirkan 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari, yang mewakili sekitar 5% dari total pasokan minyak global.
Gangguan pada jalur pasokan ini memicu tekanan hebat pada sektor energi global. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pasokan minyak mentah Arab Saudi kini anjlok ke level terendah dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade. Di pasar konsumen internasional, harga eceran solar di Amerika Serikat melonjak hingga melampaui rekor US$ 6 per galon.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Eskalasi di Timur Tengah semakin meruncing seiring langkah kelompok Houthi merebut Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb. Merespons situasi darurat ini, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta langkah militer langsung. Namun, Washington membatasi perannya pada pertukaran intelijen. Sementara itu, pejabat parlemen Iran menegaskan opsi dialog di Oman tidak akan berjalan efektif selama tuntutan Teheran belum dipenuhi.






