Bank Lampung (Bank Pembangunan Daerah Lampung) membukukan kinerja keuangan yang positif sepanjang Semester I-2026. Perseroan berhasil mencatat pertumbuhan kredit sebesar 9,8 persen pada paruh pertama tahun ini. Penyaluran pembiayaan tersebut turut mendorong pertumbuhan laba perseroan sebesar 22,75 persen, sehingga perolehan laba mencapai Rp133 miliar.
Pencapaian laba dan penyaluran kredit tersebut diraih di tengah dinamika makroekonomi yang cukup menantang. Pada Semester I-2026, pertumbuhan ekonomi nasional berada di level 5,29 persen dengan tingkat suku bunga acuan tercatat sebesar 5,7 persen. Kondisi suku bunga yang relatif tinggi ini memberikan tantangan tersendiri terhadap beban biaya operasional serta tekanan pada margin laba para pelaku usaha.
Perbaikan Struktur Pendanaan dan Efisiensi
Direktur Utama Bank Lampung Indra Merviana mengungkapkan bahwa Semester I-2026 merupakan periode yang menantang, tetapi kondisi bisnis perseroan tetap terkendali dengan baik. Bank Lampung memilih untuk tidak mengejar pertumbuhan secara agresif, melainkan mengedepankan penguatan fundamental internal.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Menurut Indra, kunci utama pengelolaan bank pada periode ini adalah perbaikan struktur pendanaan dan peningkatan efisiensi operasional. Saat ini tren di industri perbankan lebih berfokus pada adu efisiensi dan menjaga kualitas, bukan semata-mata berlomba pada kecepatan pertumbuhan volume bisnis. Strategi penataan pendanaan dan pengendalian biaya tersebut mampu menjaga kinerja rentabilitas perseroan secara sehat.
Ketahanan UMKM Sektor Rantai Pasok Pangan
Di sektor riil, ketahanan debitur turut menjadi faktor penting penopang kinerja kredit perbankan. Indra memaparkan bahwa sektor yang mampu bertahan dengan baik di tengah tantangan ekonomi adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berada dalam rantai pasok pangan.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Contoh sektor UMKM yang terbukti tangguh meliputi usaha pengolahan singkong, kopi, jagung, perikanan, hingga perdagangan kebutuhan pokok. Pelaku usaha di sektor pangan ini memiliki daya tahan terhadap siklus perekonomian karena tingkat permintaan pasar yang relatif tetap stabil dalam berbagai kondisi ekonomi, sehingga tetap dapat menjaga kelancaran usaha serta kewajiban perbankannya.






