Krisis energi akut tengah melanda Kuba akibat kelangkaan bahan bakar minyak yang semakin parah dari hari ke hari. Masalah kelistrikan ini bermula dari penurunan signifikan impor minyak mentah dari Venezuela, yang selama ini menjadi penyokong utama kebutuhan energi di negara kepulauan tersebut. Akibatnya, pemadaman listrik menjadi pemandangan sehari-hari yang melumpuhkan berbagai aktivitas masyarakat dan sektor industri. Di tengah situasi yang mendesak ini, Kuba mulai mengalihkan fokusnya secara besar-besaran ke sektor energi terbarukan, khususnya energi surya, untuk menjaga kelangsungan pasokan listrik nasional yang kian kritis.
Dalam upaya keluar dari belenggu krisis energi ini, ketergantungan Kuba terhadap China kini semakin besar. Beijing telah menjadi mitra utama dalam memasok teknologi dan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke negara tersebut. Berdasarkan data dari RenewAtlas, setidaknya telah dibangun 41 unit PLTS skala menengah dan 18 unit PLTS skala kecil di Kuba dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Langkah akselerasi ini diambil guna menambal defisit daya listrik yang terus membayangi kehidupan warga Kuba sehari-hari.
Bantuan dan pasokan peralatan dari China mengalami lonjakan yang sangat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023, nilai peralatan tenaga surya yang dikirimkan China ke Kuba hanya tercatat sebesar US$ 3 juta atau sekitar Rp 54 miliar. Namun, angka ini meroket tajam pada tahun 2025 menjadi US$ 117 juta atau setara dengan Rp 2,11 triliun. Selain itu, rencana ekonomi Kuba untuk tahun 2026 juga telah mencatat komitmen sumbangan panel surya tambahan berkapasitas 320 megawatt (MW) dari pemerintah China. Meskipun China mendominasi pasokan, negara lain seperti Vietnam dan Jepang turut memberikan bantuan peralatan dalam jumlah yang lebih kecil untuk membantu meringankan krisis kelistrikan di negara tersebut.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Menurut penjelasan dari Perdana Menteri Kuba, Manuel Marrero Cruz, pendanaan untuk proyek-proyek energi surya ini tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan asing. Sebagian dari proyek pembangunan PLTS tersebut dibiayai secara mandiri menggunakan pendapatan yang diperoleh Kuba dari sektor ekspor nikel. Kombinasi antara pendanaan domestik dari nikel dan sokongan teknologi asing ini diharapkan mampu menopang proyeksi kapasitas terpasang yang cukup besar untuk jangka panjang.
Secara keseluruhan, tambahan PLTS yang sedang dan telah dibangun ini diproyeksikan mampu menghasilkan daya sekitar 1.000 MW saat beroperasi pada kapasitas puncak. Angka kapasitas ini sangat signifikan bagi sistem kelistrikan Kuba, karena jumlah tersebut hampir lima kali lipat dari kapasitas tenaga surya yang terpasang sebelumnya di negara itu. Apabila dibandingkan dengan total kebutuhan listrik nasional Kuba saat beban puncak yang mencapai sekitar 3.200 MW, kapasitas 1.000 MW dari PLTS ini setara dengan hampir sepertiga dari seluruh kebutuhan listrik negara tersebut.
Ekonom Kuba di American University, Ricardo Torres Pérez, memberikan pandangannya mengenai urgensi proyek ini. Menurut Ricardo Torres Pérez, keberadaan PLTS ini menjadi penyelamat penting bagi stabilitas pasokan listrik Kuba yang rapuh. Ia menyatakan bahwa tanpa adanya pembangkit listrik tenaga surya tersebut, pemadaman listrik yang dialami masyarakat Kuba saat ini akan jauh lebih parah dan merusak aktivitas ekonomi harian.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Dukungan masif dari Beijing ini juga membawa dampak geopolitik yang menguntungkan bagi China di wilayah tersebut. Jorge Piñón, seorang peneliti energi Kuba dari University of Texas, menilai bahwa langkah strategis ini memberikan keuntungan citra bagi China. Menurut Jorge Piñón, dukungan energi yang diberikan Beijing berhasil memberikan citra positif bagi China di seluruh kawasan Karibia. Hal ini menunjukkan bagaimana krisis energi domestik di Kuba dimanfaatkan secara taktis oleh China untuk memperkuat pengaruh diplomatik dan ekonominya di wilayah tersebut.
Kendati kapasitas terpasang PLTS terus meningkat, Kuba masih menghadapi tantangan teknis yang sangat berat di lapangan. Negara ini tidak bisa serta-merta memanfaatkan seluruh potensi daya listrik dari kapasitas tenaga surya yang telah terpasang. Kendala utama terletak pada kondisi infrastruktur jaringan listrik Kuba yang sudah sangat tua dan tidak efisien. Selain itu, kinerja pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang terus menurun serta minimnya kapasitas baterai penyimpanan daya membuat pemanfaatan energi surya menjadi tidak optimal. Tanpa perbaikan sistem penyimpanan energi dan modernisasi jaringan transmisi, potensi besar dari ribuan panel surya ini belum dapat dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat Kuba.






