Krisis energi akut tengah melanda Kuba akibat kelangkaan bahan bakar minyak yang semakin parah dari hari ke hari. Masalah kelistrikan ini bermula dari penurunan signifikan impor minyak mentah dari Venezuela, yang selama ini menjadi penyokong utama kebutuhan energi di negara kepulauan tersebut. Akibatnya, pemadaman listrik menjadi pemandangan sehari-hari yang melumpuhkan berbagai aktivitas masyarakat dan sektor industri. Di tengah situasi yang mendesak ini, Kuba mulai mengalihkan fokusnya secara besar-besaran ke sektor energi terbarukan, khususnya energi surya, untuk menjaga kelangsungan pasokan listrik nasional yang kian kritis.
Dalam upaya keluar dari belenggu krisis energi ini, ketergantungan Kuba terhadap China kini semakin besar. Beijing telah menjadi mitra utama dalam memasok teknologi dan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke negara tersebut. Berdasarkan data dari RenewAtlas, setidaknya telah dibangun 41 unit PLTS skala menengah dan 18 unit PLTS skala kecil di Kuba dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Langkah akselerasi ini diambil guna menambal defisit daya listrik yang terus membayangi kehidupan warga Kuba sehari-hari.








