Krisis kelistrikan di Pakistan kian memburuk setelah pemadaman listrik berkepanjangan melanda Kota Karachi. Sebagai kota terbesar sekaligus pusat ekonomi negara tersebut, gangguan pasokan energi ini memicu kelumpuhan aktivitas warga dan operasional fasilitas publik.
Sejumlah wilayah permukiman dilaporkan mengalami pemadaman listrik ekstrem yang berlangsung selama 16 hingga 24 jam. Area yang terdampak di antaranya mencakup North Karachi, Nazimabad, serta sebagian kawasan Gulistan-i-Jauhar. Berdasarkan jadwal resmi yang dirilis oleh perusahaan penyedia daya K-Electric, lebih dari 615 feeder tercatat mengalami pemadaman harian hingga mencapai 12 jam.
Dampak terhadap Pasokan Air dan Kebutuhan Dasar
Dampak krisis daya ini turut menjalar ke pasokan air bersih di sejumlah kawasan. Distribusi air terganggu lantaran fasilitas pemrosesan dan pompa air yang bergantung pada suplai listrik tidak dapat beroperasi secara normal.
Talenta Vokasi Dituntut Adaptif Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Aktivis hak asasi manusia serta kelompok masyarakat sipil memperingatkan bahwa pemadaman listrik berkepanjangan telah mengacaukan berbagai aktivitas dasar rumah tangga, mulai dari memasak, mandi, mencuci pakaian, hingga menjaga kebersihan rumah. Kondisi ini membuat keluarga berpenghasilan rendah berada di ambang kesulitan berat.
Qazi Khizer dari Human Rights Commission of Pakistan menegaskan bahwa pemadaman berlarut-larut ini secara tidak proporsional memperburuk kondisi masyarakat kelas pekerja. Menurutnya, krisis listrik bukan semata masalah ekonomi, melainkan juga berdampak negatif terhadap kesehatan mental warga. Selain itu, aktivitas masyarakat yang memerlukan tenaga listrik untuk bekerja maupun belajar ikut terganggu karena aliran daya terputus hampir sepanjang hari.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Kinerja Privatisasi K-Electric Disorot
Situasi pemadaman parah ini memicu kritik terhadap K-Electric, entitas yang sebelumnya merupakan perusahaan penyedia listrik milik pemerintah sebelum akhirnya dialihkan ke sektor swasta melalui privatisasi.
Presiden Karachi Union of Journalists, Tahir Hassan Khan, secara terbuka mempertanyakan capaian dan efektivitas dari proses privatisasi tersebut. Ia menilai janji peningkatan teknologi maupun pembenahan operasional dari pihak perusahaan belum terbukti dalam bentuk penyediaan pasokan listrik yang andal bagi masyarakat.






