Titik koordinat terakhir lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak saat meliput di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau sempat terdeteksi di area Pulau Sebesi pada 7 September. Informasi koordinat tersebut diperoleh setelah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berkoordinasi dengan tiga operator seluler untuk memantau pancaran sinyal Base Transceiver Station (BTS) di sekeliling Selat Sunda, mencakup wilayah Banten hingga Lampung melalui balai pemantauan setempat.
Operasi pencarian gabungan yang telah memasuki hari kelima mengerahkan berbagai armada lintas instansi, termasuk unsur TNI Angkatan Laut, Ditpolair, Basarnas, serta Kantor SAR dari wilayah Banten, Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Hingga pencarian terkini, keberadaan kedelapan korban belum ditemukan secara pasti.
Penemuan Sejumlah Barang di Sektor Pencarian
Dalam penyisiran di Sektor 5, tim SAR gabungan menemukan beberapa benda yang terapung di perairan. Sektor 5 mencakup wilayah selatan Gunung Anak Krakatau hingga perairan Ujung Kulon dengan total luas penyisiran mencapai 380 mil laut persegi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Temuan di area tersebut meliputi:
- Satu jeriken minyak berwarna biru yang terdeteksi sekitar pukul 10.05 WIB.
- Satu helm merah pada pukul 12.00 WIB.
- Satu jaket pelampung (life jacket) berwarna oranye pada pukul 17.10 WIB.
- Satu jaket pelampung berwarna merah pada pukul 18.09 WIB.
Pembagian Wilayah Operasi dan Kendala Cuaca
Untuk memaksimalkan operasi penyisiran, area pencarian laut dibagi ke dalam enam sektor, yaitu sektor T, U, Z, W, X, dan Y. Total cakupan wilayah pencarian di laut diperkirakan mencapai 2.537 mil laut persegi. Selain armada laut, tim gabungan juga menggelar pemantauan udara di sektor H yang mencakup area sekitar 2.063 mil laut persegi.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Proses pencarian di lapangan menghadapi tantangan berat akibat faktor cuaca. Tim SAR gabungan melaporkan bahwa jarak pandang (visibility) di perairan Selat Sunda dan sekitarnya sangat terbatas akibat kabut tebal yang menyelimuti area operasi.






