Kepolisian Filipina resmi menangkap mantan Ketua DPR Filipina, Martin Romualdez, atas dugaan penjarahan dana negara (plunder) senilai 7,44 miliar peso atau setara Rp2,1 triliun. Surat perintah penangkapan diserahkan langsung oleh aparat kepolisian saat politisi yang merupakan sepupu dekat Presiden Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. tersebut tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Metro Manila.
Menteri Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Jonvic Remulla mengonfirmasi eksekusi surat penangkapan tersebut dan menyatakan bahwa hak kebebasan Romualdez kini telah dibatasi. Romualdez sebelumnya masuk rumah sakit akibat gangguan kardiovaskular dan tekanan darah yang tidak stabil. Pihak berwenang memastikan bahwa tersangka akan langsung dipindahkan ke fasilitas penjara begitu tim dokter menyatakan kondisi kesehatannya cukup stabil untuk keluar dari rumah sakit.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Surat penangkapan dari Pengadilan Antikorupsi Filipina terbit hanya beberapa jam setelah Kantor Ombudsman mengajukan dakwaan resmi terhadap Romualdez beserta tiga orang lainnya. Berdasarkan dakwaan tersebut, aliran dana korupsi diduga berasal dari kontraktor dan entitas bisnis yang terafiliasi dengan proyek pengendalian banjir, infrastruktur, serta program pemerintah lainnya yang bersumber dari anggaran belanja nasional periode 2022 hingga 2025.
Kasus dugaan korupsi proyek mitigasi bencana ini sebelumnya sempat menyulut aksi demonstrasi besar-besaran di Manila dan berbagai kota besar di Filipina pada September tahun lalu. Publik memprotes keras dugaan penyimpangan anggaran yang melibatkan pejabat tinggi negara dalam pengelolaan proyek infrastruktur nasional.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Secara silsilah keluarga, Martin Romualdez memiliki hubungan kekerabatan langsung di lingkaran kekuasaan istana. Ayahnya, Benjamin "Kokoy" Romualdez, merupakan adik kandung dari mantan ibu negara Imelda Marcos, ibu dari Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.






