Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah surat kabar terkemuka asal Israel, Haaretz, melancarkan kritik tajam kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Sorotan keras ini dipicu oleh aksi militer Israel di Suriah yang dinilai gegabah dan berisiko menyeret negara tersebut ke dalam konflik terbuka yang tidak perlu dengan Turki, salah satu kekuatan militer utama anggota NATO.
Eskalasi militer ini bermula ketika jet tempur Israel melancarkan delapan gelombang serangan udara terhadap fasilitas landasan pacu pangkalan udara militer Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, pada hari Selasa. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan fisik pada infrastruktur pangkalan.
Kritik Terbuka Media Haaretz terhadap Manuver Militer Netanyahu
Dalam laporannya, Haaretz menyoroti langkah agresif Netanyahu yang menargetkan wilayah Idlib. Media tersebut memperingatkan bahwa manuver semacam ini memiliki konsekuensi strategis berbahaya bagi posisi pertahanan Tel Aviv. Menghadapi konfrontasi langsung dengan militer Turki dinilai sebagai langkah berisiko tinggi tanpa dasar urgensi keamanan nasional yang jelas.
Sejak rezim Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024, militer Israel terus memperluas cakupan serangannya ke berbagai penjuru Suriah. Namun, operasi terbaru yang merusak pangkalan Abu al-Duhur dinilai melampaui batas kehati-hatian diplomasi militer kawasan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Klaim Intelijen Tel Aviv vs Bantahan Keras Turki dan Amerika Serikat
Netanyahu berdalih bahwa serangan udara tersebut dilancarkan untuk menahan ekspansi kehadiran personel militer Turki di kawasan Suriah barat laut. Kendati demikian, narasi yang dibangun kantor Perdana Menteri Israel tersebut langsung dimentahkan oleh pihak Ankara maupun sekutu utamanya, Washington.
Sumber internal dari Kementerian Pertahanan Turki memastikan bahwa tidak ada personel maupun misi militer Turki yang ditempatkan di Pangkalan Udara Abu al-Duhur, baik sebelum maupun saat serangan berlangsung. Baik pihak berwenang di Ankara maupun Washington menuding langkah militer Netanyahu murni dipicu oleh manuver politik domestik dalam menghadapi momentum pemilihan umum di Israel.
Peringatan Thomas Barrack tentang Risiko Benturan dengan Anggota NATO
Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki sekaligus Utusan Khusus untuk Suriah dan Irak, Thomas Barrack, memberikan peringatan keras mengenai dinamika di lapangan. Barrack menyebut agresi udara di Idlib dapat meningkat eskalasinya menjadi benturan militer langsung antara Israel dan Turki.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Thomas Barrack menegaskan beberapa poin penting terkait posisi keamanan regional:
- Niat Ankara: Pihak Turki sama sekali tidak memiliki niat atau rencana untuk menyerang Israel maupun terlibat dalam konfrontasi militer langsung.
- Faktor Politik Domestik: Israel dinilai berpotensi bertindak secara irasional di arena militer karena sedang memasuki masa persiapan pemilu domestik.
Sikap Resmi Suriah di PBB Pasca-Serangan Idlib
Pemerintah Suriah merespons rentetan agresi tersebut dengan melayangkan dua surat identik kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB. Damaskus mengecam tindakan Israel yang mencakup serangan udara berkelanjutan, penyusupan wilayah, hingga operasi penculikan.
Dalam pernyataan resminya ke badan dunia tersebut, Suriah menegaskan bahwa aksi militer sepihak yang dilancarkan Tel Aviv secara nyata menghambat proses stabilisasi nasional pascapergantian kekuasaan, sekaligus memicu eskalasi ketegangan regional di perbatasan.






