Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dikenal dengan nama Whoosh, saat ini dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Dalam struktur kepemilikannya, terdapat PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang merupakan konsorsium Badan Usaha Milik Negara sekaligus pemegang saham langsung di KCIC. Kinerja keuangan PSBI kini menjadi sorotan utama karena memberikan pengaruh langsung terhadap kesehatan finansial para pemegang sahamnya. Sebagai sebuah proyek infrastruktur berskala besar, dinamika keuangan yang terjadi di dalam ekosistem Whoosh berdampak secara signifikan terhadap entitas BUMN yang terlibat di dalamnya.
Berdasarkan data keuangan terbaru, PSBI mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan pada paruh pertama tahun 2026. Hanya dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun tersebut, konsorsium BUMN ini harus membukukan kerugian bersih yang mencapai angka Rp5,13 triliun. Nilai kerugian ini tergolong sangat besar, terutama jika dibandingkan dengan performa tahun sebelumnya. Angka kerugian selama enam bulan tersebut bahkan telah melampaui total akumulasi kerugian PSBI sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp4,99 triliun. Hal ini menunjukkan adanya tren peningkatan beban keuangan yang harus ditanggung oleh konsorsium dalam waktu yang relatif singkat.
Lonjakan kerugian yang signifikan tersebut secara langsung memengaruhi kondisi neraca keuangan PSBI. Saat ini, konsorsium tersebut secara teknis telah berada dalam posisi ekuitas negatif atau negative equity. Kondisi ini terjadi karena total liabilitas atau kewajiban PSBI telah membengkak hingga mencapai Rp21,55 triliun. Angka liabilitas tersebut sudah melampaui nilai total aset perusahaan yang tercatat sebesar Rp21,53 triliun. Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi pada akhir tahun 2025, di mana PSBI sebenarnya masih memiliki bantalan ekuitas yang bernilai positif di kisaran Rp5,1 triliun.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kondisi keuangan PSBI yang tertekan ini memberikan dampak berantai yang sangat besar bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Sebagai pemilik saham mayoritas di PSBI dengan porsi kepemilikan mencapai 58,53%, KAI otomatis harus menanggung beban kerugian terbesar dari ekosistem kereta cepat Jakarta-Bandung ini. Beban tersebut terlihat secara jelas dari bagian rugi Whoosh yang harus ditanggung oleh KAI. Bagian kerugian tersebut melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari yang sebelumnya berada di angka Rp948 miliar, kini membengkak menjadi Rp3 triliun.
Dampak dari pembengkakan kerugian investasi ini sangat memengaruhi kinerja keuangan konsolidasian KAI secara keseluruhan. Padahal, jika melihat performa bisnis inti di sektor transportasi kereta api konvensional, KAI sebenarnya menunjukkan kinerja operasional yang sangat solid. Pendapatan angkutan KAI tercatat mampu tumbuh sebesar 6,7% dan laba usahanya melesat hingga 26% secara year-on-year. Namun, momentum pertumbuhan positif di sektor bisnis inti tersebut harus tergerus habis oleh beban kerugian dari investasi di proyek Whoosh. Akibatnya, laba bersih konsolidasian KAI anjlok hingga 73% menjadi hanya tersisa Rp314 miliar.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Selain menggerus perolehan laba bersih, investasi di PSBI juga memengaruhi struktur aset dan tingkat likuiditas KAI. Nilai tercatat investasi KAI di dalam PSBI mengalami pemangkasan yang sangat drastis, turun dari Rp4,79 triliun pada akhir tahun 2025 menjadi hanya Rp1,79 triliun per Juni 2026. Pada periode yang sama, likuiditas KAI juga mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini terlihat dari menyusutnya total kas dan setara kas KAI dari Rp6,76 triliun menjadi Rp4,85 triliun hanya dalam kurun waktu enam bulan. Secara keseluruhan, total eksposur KAI terhadap ekosistem Whoosh dan PSBI diperkirakan telah mencapai sekitar Rp11,7 triliun, yang setara dengan kurang lebih 11% dari total aset KAI sebesar Rp104,79 triliun per Juni 2026.
Sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan risiko keuangan lanjutan yang lebih dalam, manajemen KAI telah mengambil tindakan preventif. Perusahaan telah membukukan cadangan penurunan nilai atau impairment dengan nilai sebesar Rp1,55 triliun. Cadangan ini disiapkan secara khusus untuk meminimalkan dampak risiko terhadap neraca keuangan perusahaan di masa mendatang. Di sisi lain, kelangsungan pendanaan proyek kereta cepat ini juga tidak lepas dari intervensi pemerintah. Negara turut memberikan jaminan pendanaan untuk proyek tersebut melalui PT PII, yang menjadi faktor penting bagi keberlanjutan operasional Whoosh di tengah tekanan finansial yang ada.






