Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menginstruksikan seluruh jajaran pimpinan Sekolah Rakyat untuk menjalankan pengawasan penuh selama 24 jam tanpa kompromi terhadap para siswa. Penegasan ini disampaikan dalam agenda koordinasi nasional secara daring melalui Zoom yang diikuti jajaran kepala sekolah dari berbagai daerah.
Gus Ipul menggarisbawahi bahwa konsep institusi Sekolah Rakyat yang berbasis asrama (boarding school) menuntut kehadiran sistem pemantauan yang ketat. Pengawasan intensif ini diarahkan untuk mencegah potensi kasus perundungan (bullying), kekerasan seksual, serta benih intoleransi di lingkungan belajar dan asrama.
Untuk menjamin keamanan siswa secara menyeluruh, kepala sekolah diinstruksikan mengoptimalkan peran wali asuh dan wali asrama, serta memanfaatkan integrasi kamera pengawas (CCTV) di area-area strategis.
Tiga Pilar dan Laporan Berkala Kondisi Siswa
Dalam arahannya, Mensos menetapkan tiga pilar utama yang bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar dalam operasional Sekolah Rakyat, yaitu pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Aspek kepatuhan menitikberatkan pada tata kelola administrasi yang bersih, pengelolaan anggaran bebas korupsi, pencegahan konflik kepentingan, serta standardisasi kualitas fasilitas asrama dan kegiatan belajar-mengajar. Sementara pada aspek kolaborasi, kepala sekolah diminta aktif membangun konsolidasi dengan pemerintah daerah setempat, masyarakat sekitar, hingga tenaga pengajar tamu.
Mulai bulan depan, setiap kepala sekolah juga diwajibkan menyusun laporan rutin mengenai rekam jejak tiap peserta didik. Laporan tersebut mencakup kondisi kesehatan fisik, stabilitas perkembangan mental, hingga latar belakang keluarga siswa. Kemensos memberikan masa penyesuaian selama satu hingga tiga bulan bagi para kepala sekolah untuk beradaptasi dengan lingkungan serta karakter para siswa baru.
Kesiapan Fasilitas di Wilayah Terdampak Karhutla
Selain aspek pengawasan harian, koordinasi tersebut turut meninjau kesiapan mitigasi lingkungan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah rawan bencana, salah satunya pembangunan gedung permanen SRT 1 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, yang berdekatan dengan area kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Kepala SRT 1 Kotawaringin Timur, Nikkon Bhastari, menjelaskan bahwa gedung sekolah sempat terdampak kepulan asap karena titik kebakaran berada sekitar tiga meter dari lokasi. Kendati demikian, pihak sekolah memutuskan untuk tetap mengasramakan para siswa demi alasan keselamatan dan ketersediaan fasilitas mitigasi.
Menurut pihak sekolah, lingkungan asrama dinilai lebih aman bagi anak-anak karena posisinya dekat dengan puskesmas dan rumah sakit, didukung kesiapan peralatan medis seperti tabung oksigen, stok masker, serta alat nebulizer. Proses pembelajaran tetap berjalan dari pukul 08.00 hingga 09.00 pagi, dan dialihkan langsung ke dalam asrama dengan pendampingan guru apabila kabut asap tebal mulai menyelimuti area luar.






