JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk. membukukan lonjakan simpanan valuta asing (valas) lebih dari 20% baik dari sisi perolehan dana maupun jumlah rekening. Direktur Consumer & Emerging Business Banking CIMB Niaga, Noviady Wahyudi, mengungkapkan bahwa tren akumulasi valas tersebut utamanya didorong oleh nasabah segmen affluent atau nasabah kaya.
Pertumbuhan kepemilikan rekening valas di bank swasta tersebut telah berlangsung secara konsisten dalam 24 bulan terakhir. Portofolio mata uang asing nasabah juga tidak terbatas pada dolar Amerika Serikat (AS), melainkan menyebar ke sejumlah mata uang kawasan seperti ringgit Malaysia, won Korea, hingga yuan China.
Peran Layanan Digital dan Jaminan Kurs
Aktivitas konversi mata uang nasabah dinilai semakin aktif seiring tersedianya kemudahan transaksi digital melalui OCTO Mobile. Aplikasi perbankan milik perseroan ini memfasilitasi nasabah untuk memantau pergerakan kurs sekaligus melakukan konversi langsung untuk berbagai kebutuhan transaksi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dalam transaksi valas digital tersebut, CIMB Niaga juga menerapkan skema jaminan kurs (rate guaranteed). Program ini memberikan proteksi berupa pembayaran selisih hingga tiga kali lipat apabila nasabah menemukan harga kurs yang lebih kompetitif di tempat lain saat bertransaksi lewat aplikasi mobile.
Tren Industri dan Pengaruh Kebijakan DHE
Peningkatan simpanan valas di CIMB Niaga sejalan dengan tren di industri perbankan nasional. Berdasarkan data distribusi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026, jumlah rekening dolar AS tumbuh 185,5% secara tahunan (year on year/yoy). Adapun total nominal simpanan pada rekening tabungan valas nasional mencapai Rp1.741,46 triliun, meningkat 19,5% yoy.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Mengenai dinamika regulasi, pemerintah memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 per 1 Juni 2026 yang mewajibkan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) 100% di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan penempatan devisa ekspor baru ini dinilai lebih berpengaruh terhadap komposisi rekening valas non-ritel, sementara permintaan valas di segmen nasabah perorangan tetap menunjukkan tren ekspansif.






