Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami perubahan arah pergerakan pada perdagangan sesi pagi hari Kamis, 13 Agustus 2026. Saat perdagangan awal dibuka, IHSG sebenarnya sempat bertengger di zona hijau dengan menguat sebesar 0,23% ke posisi 6.388,23 dari level penutupan hari sebelumnya yang berada di 6.373,85. Kendati demikian, performa positif tersebut tidak bertahan lama akibat tertekan oleh aksi jual yang berbalik mendorong indeks masuk ke area merah. Data resmi dari Bursa Efek Indonesia mencatat bahwa pada pukul 09.01 WIB, IHSG tercatat mengalami penurunan sebanyak 27,70 poin atau melemah 0,43% ke level 6.346,15. Dari sisi aktivitas perdagangan pagi tersebut, nilai transaksi bursa tercatat mencapai Rp 647,8 miliar. Aktivitas pasar ini melibatkan transaksi sebanyak 1,2 miliar saham yang terakumulasi dalam 95.580 kali frekuensi transaksi.
Tekanan yang dialami oleh IHSG pada awal perdagangan Kamis pagi ini tidak lepas dari perhatian para investor yang tertuju pada pengumuman hasil reviu indeks berkala. Hasil dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) August 2026 Index Review telah dipublikasikan secara resmi pada dini hari Kamis, 13 Agustus 2026. Berdasarkan hasil reviu untuk periode Agustus tersebut, lembaga penyedia indeks global MSCI tidak memasukkan atau menambah satu pun saham asal Indonesia ke dalam kategori MSCI Global Standard Indexes. Di samping tidak adanya penambahan saham baru, reviu ini membawa perubahan status bagi beberapa emiten besar di tanah air. Salah satunya adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang mengalami penurunan kelas menuju MSCI Global Small Cap Indexes. Sementara itu, emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) secara resmi dikeluarkan dari jajaran MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI).
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Selain perombakan status pada CPIN dan pengeluaran GOTO dari MSCI Indonesia IMI, kebijakan reviu berkala dari MSCI juga mencakup deretan saham lainnya di bursa domestik. MSCI mencatat keputusan untuk menghapus sembilan saham Indonesia dari jajaran Global Small Cap Indexes. Langkah penyesuaian susunan anggota portofolio indeks internasional ini berlaku untuk seluruh perubahan yang telah diumumkan. Secara teknis, seluruh perubahan dalam reviu MSCI tersebut akan mulai diberlakukan setelah penutupan perdagangan bursa pada tanggal 31 Agustus 2026, atau secara efektif mulai berlaku pada 1 September 2026. Keputusan ini menjadi salah satu katalis utama yang memengaruhi pergerakan harga saham emiten yang terdampak di Bursa Efek Indonesia.
Di luar kabar penyesuaian portofolio indeks MSCI, laju IHSG dan sentimen pasar saham domestik turut dipengaruhi oleh rilis data makroekonomi dari Amerika Serikat (AS). Data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk bulan Juli mencatatkan kenaikan sebesar 0,1% secara bulanan (month-on-month) dan tumbuh 3,4% secara tahunan (year-on-year). Pada periode yang sama, data inflasi inti AS dilaporkan mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,2% secara bulanan serta 2,5% secara tahunan. Meskipun tingkat inflasi AS tersebut menunjukkan perkembangan tertentu, angka laju inflasi secara keseluruhan masih berada di atas target yang ditetapkan oleh Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed), yaitu sebesar 2%. Setelah rilis data CPI, perhatian pelaku pasar global dan domestik selanjutnya tertuju pada rilis data ekonomi AS lainnya, yakni Producer Price Index (PPI) dan data klaim awal pengangguran yang dijadwalkan meluncur pada Kamis malam.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Selain sentimen dari pasar AS, pergerakan indeks di kawasan regional dan pasar global juga memberikan bayang-bayang terhadap dinamika investasi. Di kawasan Asia, para investor regional terus mencermati indikator Producer Price Index (PPI) Jepang yang diperkirakan bakal kembali mengalami peningkatan pada bulan Juli. Sementara itu, dari sektor komoditas dan geopolitik, kebuntuan antara pihak Amerika Serikat dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz terus menjaga dinamika pasar energi. Kondisi ketegangan di Selat Hormuz tersebut membuat harga minyak mentah dunia tetap bertahan di level tinggi dan bergerak volatil. Dalam perdagangan terkini, minyak mentah jenis Brent berada di kisaran US$88 per barel, sedangkan jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$83 per barel. Kombinasi faktor makroekonomi, reviu indeks, dan dinamika geopolitik global ini menjadi fokus pengamatan pelaku pasar modal di Indonesia.






