Kabar pasar mengenai potensi aksi korporasi berupa penggabungan usaha atau merger antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) tengah mencuat ke ruang publik. Informasi yang beredar di pasar menyebutkan bahwa pihak Mitratel telah meminta penasihat untuk mengajukan rencana terkait kemungkinan penggabungan usaha dengan Tower Bersama. Kabar seputar penjajakan konsolidasi antarperusahaan infrastruktur menara ini pun menjadi sorotan para pelaku pasar dan investor.
Menanggapi peredaran rumor penggabungan usaha tersebut, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk selaku induk sekaligus pengendali Mitratel memberikan tanggapan resmi. Respons tersebut disampaikan oleh SVP Group Sustainability & Corporate Communication Telkom, Ahmad Reza. Terkait informasi spesifik mengenai rencana merger antara Mitratel dan Tower Bersama, Ahmad Reza menyampaikan bahwa untuk saat ini perseroan belum dapat memberikan komentar lebih lanjut kepada publik.
Kendati belum dapat memberikan rincian lebih lanjut, pihak Mitratel menyatakan bahwa perseroan secara berkala terus mengevaluasi berbagai opsi strategis demi pengembangan bisnis serta penciptaan nilai jangka panjang bagi perusahaan. Telkom juga menegaskan komitmennya terhadap kepatuhan regulasi di pasar modal. Apabila di kemudian hari terdapat informasi material yang perlu disampaikan kepada publik, perseroan memastikan akan menyampaikannya secara resmi melalui mekanisme keterbukaan informasi dan saluran resmi yang sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Isu konsolidasi yang melibatkan Mitratel dan Tower Bersama bukanlah yang pertama kali muncul ke permukaan. Pembicaraan serupa mengenai kerja sama strategis antara kedua entitas pernah terjadi pada tahun 2015 silam. Pada waktu itu, pihak Tower Bersama memiliki rencana untuk mengakuisisi saham Mitratel. Namun, rencana transaksi korporasi tersebut pada akhirnya batal terlaksana setelah tidak berhasil memperoleh persetujuan lebih lanjut dari pihak-pihak terkait.
Berdasarkan data Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per Juli 2026, kepemilikan saham di PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk dikendalikan secara mayoritas oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dengan porsi kepemilikan sebesar 71,83 persen. Selain kepemilikan saham oleh Telkom, Indonesia Investment Authority (INA) juga tercatat memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 5,97 persen di Mitratel melalui entitas PT Maleo Investasi Indonesia. Sementara itu, pemerintah Singapura juga mengempit porsi kepemilikan sebesar 5,33 persen saham di Mitratel. Dalam hal skala operasional bisnisnya di tanah air, Mitratel saat ini mengoperasikan lebih dari 39.000 menara di Indonesia.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Sementara itu, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) merupakan entitas yang dikendalikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Winato Kartono melalui Bersama Digital dengan porsi kepemilikan saham sebesar 81,29 persen. Di samping kepemilikan mayoritas tersebut, anak usaha dari PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), yaitu PT Wahana Anugerah Sejahtera, tercatat turut menggenggam porsi kepemilikan sebesar 9,37 persen saham di TBIG.






