Menyisihkan uang saku dalam jumlah kecil secara konsisten diyakini mampu membangun aset bernilai besar di masa depan. Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi PDIP, Harris Turino, membagikan strategi pengelolaan dana bagi generasi muda saat berbicara pada ajang Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).
Harris menyarankan anak muda mulai menyisihkan sekitar 20 persen dari uang saku atau setara Rp300.000 setiap bulan. Alih-alih dibiarkan mengendap tanpa imbal hasil, alokasi dana tersebut disarankan untuk dialihkan ke instrumen investasi, salah satunya pasar saham.
Strategi Beli dan Tahan untuk Jangka Panjang
Kunci utama membangun kekayaan dari nominal Rp300.000 per bulan terletak pada kedisiplinan dan horizon waktu jangka panjang. Harris menekankan metode pembelian berkala yang dilanjutkan dengan membiarkan aset tersebut bertumbuh seiring waktu.
"Anda setiap bulan bisa investasi Rp300 ribu saja, tiga ratus ribu saja, beli saham terus diam, beli lagi bulan depan terus diam, beli lagi bulan depan terus diam," ujar Harris di hadapan peserta festival.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Ia merujuk pandangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait efek akumulasi modal dalam rentang 20 tahun. Menurutnya, pemodal muda yang konsisten menanamkan modal sejak awal akan melihat nilai kekayaan mereka bertambah signifikan saat memasuki usia 40 tahun.
Kriteria Pemilihan Saham untuk Pemula
Agar alokasi dana bulanan tidak hilang, Harris mengingatkan pentingnya memahami model bisnis dari instrumen yang dibeli. Pemula dianjurkan mencari profil perusahaan lewat Google dan menghindari saham yang skema bisnisnya rumit atau sulit dipahami.
Bagi yang baru memulai, indeks LQ45 dinilai menjadi opsi paling realistis. Saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45 telah melalui proses kurasi berbasis performa dan likuiditas perusahaan di bursa efek.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Selain itu, Harris memperingatkan generasi muda agar tidak terjebak iming-iming keuntungan fantastis maupun bunga tinggi yang sering kali merupakan tanda investasi bodong. Ia juga menggarisbawahi risiko instrumen seperti kripto jika dibeli semata-mata karena tren tanpa pemahaman mendalam.
Menurutnya, ikut-ikutan membeli instrumen berisiko tinggi tanpa bekal pengetahuan berpotensi mendatangkan kerugian, sehingga instrumen saham berfundamental jelas dinilai lebih aman untuk pemodal pemula.






