Krisis energi parah yang melanda Libya selama lebih dari enam minggu telah melumpuhkan aktivitas publik dan memicu gelombang unjuk rasa di berbagai wilayah. Kendati berstatus sebagai pemilik cadangan minyak mentah terbukti terbesar di kawasan Afrika, negara tersebut kini menghadapi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), pemadaman listrik berkepanjangan, hingga terhentinya pasokan air bersih.
Di ibu kota Tripoli, antrean panjang kendaraan mengular di stasiun pengisian bahan bakar di tengah sengatan suhu yang mendekati 40 derajat Celcius. Pengemudi truk bernama Ahmed Al-Sharif (49) mengaku terpaksa mengantre selama dua hingga tiga hari hanya demi memperoleh pasokan solar. Situasi kelangkaan ini memicu lonjakan harga solar di pasar gelap hingga menembus 8 dinar Libya atau sekitar US$1,26 (Rp22.302) per liter, meningkat lebih dari 50 kali lipat melampaui tarif subsidi resmi dari pemerintah.
Dampak Pemadaman Listrik dan Krisis Air Bersih
Tekanan ekonomi kian memburuk akibat pemadaman aliran listrik yang berlangsung lebih dari 10 jam setiap harinya. Gangguan ini memukul sektor usaha secara langsung. Khaled Ibrahim (32), seorang pemilik supermarket di Tripoli timur, menuturkan bahwa rusaknya sistem pendingin akibat ketiadaan listrik membuat stok barang beku miliknya membusuk dan fasilitas air dingin untuk pembeli tidak dapat beroperasi.
Talenta Vokasi Dituntut Adaptif Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Imbas krisis energi turut merembet ke pasokan air bersih menyusul terganggunya operasional Great Man-Made River, yakni jaringan pipa akuaduk yang mendistribusikan air tawar ke sebagian besar kawasan Libya. Pemilik kafe di Tripoli tengah, Rafaa Zaid, terpaksa menutup seluruh kegiatan usahanya akibat ketiadaan air. Akumulasi persoalan ini memicu demonstrasi berujung kekerasan dari kalangan warga yang memblokir ruas jalan dengan membakar ban serta memasang barikade puing-puing di sekitar gedung pemerintah.
Penjelasan Otoritas dan Sorotan Masalah Pengelolaan
Menanggapi situasi yang memanas, Ketua Perusahaan Listrik Umum Libya (GECOL), Bashir Al-Marash, menyampaikan janji bahwa krisis kelistrikan tersebut ditargetkan rampung dalam kurun waktu dua minggu ke depan.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Dari sisi pasokan bahan bakar, juru bicara Brega Petroleum Marketing Company, Ahmed Al-Masallati, menjelaskan bahwa keterlambatan distribusi dipengaruhi oleh kendala pengiriman internasional di Selat Hormuz serta dampak dinamika krisis energi global. Di dalam negeri, volume produksi kilang Zawia juga dilaporkan menyusut drastis akibat gangguan listrik lokal dan persoalan stabilitas keamanan.
Keterbatasan fasilitas infrastruktur pengolahan domestik membuat Libya tetap bergantung pada pasokan impor produk minyak jadi, meski cadangan minyak mentahnya melimpah. Menyoroti ketimpangan tersebut, pakar energi dari Universitas Omar Al-Mukhtar, Tariq Al-Tarhouni, menegaskan bahwa kemelut yang terjadi bukan sekadar masalah pembangkitan listrik teknis, melainkan kegagalan dalam tata kelola keseluruhan sistem energi nasional.






